Kesalahan Sendiri Yang Sering Terabaikan Akibat Lalai

Irman fsp | Dalam kehidupan bermasyarakat tentu akan lebih baik bila kita saling menjaga serta menghargai satu sama lainnya. Terlepas dari beda budaya, adat, dan juga agama. Bila sosial budaya dalam kehidupan masyarakat kuat, maka keakrabanpun akan menjadi lebih baik dan terjaga. Namun demikian, bila dalam kehidupan bermasyarakat tidak bisa beradaptasi serta selalu mementingkan kepentingan pribadi dan juga kelompok akan menjadi renggang keakraban yang ada. Ini menjadi salah satu kesalahan yang sering dilakukan tanpa disadari.

Kehidupan dalam masyarakat terlihat sangat bervariasi, artinya ada yang mampu, setengah mampu, bahkan ada yang kurang mampu dari segi ekonomi. Hal ini tentu menjadi perhatian dan keprihatinan individu, namun itu terabaikan. Keterpurukan ekonomi dalam masyarakat sudah tidak bisa dibendung dikarenakan lalai dengan sesuatu yang kurang bermanfaat bila dibandingkan dengan kebutuhannya masing masing.

Masyarakat sibuk dengan berita, dan lupa dengan tanggung jawabnya

Melihat secara kasat mata, terkadang pemasukan ekonomi sehari tidak mencukupi dapur mereka bila dibandingkan dengan seharusnya yang ada. Artinya, bagi individu yang sudah berkeluarga tentu akan mengeluarkan uang untuk keluarganya yakni kebutuhan dapur bahkan lainnya. Akan tetapi, melihat gaya hidup mereka dapat dikatakan kesalahan yang besar namun terabaikan yang disebabkan kelalaian sendiri.

Sebagai contoh, mungkin Anda juga melihat gaya hidup dalam masyarakat yang keseringan duduk di warung kopi yang menghabiskan waktu tanpa henti, seakan ia sudah ada penghasilan upah minimum provinsi (UMP). Mungkin, bagi mereka yang berkedudukan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) bahkan kontrak yang artinya sudah ada penghasilan tetap, tentu tidak menjadi satu masalah dalam rumah tangga.

Tidak mesti pegawai atau pegawai kontrak, bahkan bagi pengusaha pun yang duduk di warkop tanpa henti tidak menjadi satu masalah, karena sudah mempunyai penghasilan tiap bulan. Sungguh memperihatinkan bagi masyarakat yang duduk berjamjam di warung kopi bersama kawannya yang hanya berbicara perkembangan informasi yang ada, sementara maaf cakap “untuk rumah tangganya masih minus bahkan nol”. Apa yang terjadi?

Mungkin bagi mereka, duduk dengan secangkir kopi yang menghabiskan waktu berjam jam merupakan suatu keasyikan dan atau hanya sebatas membuang penat atau masalah yang ada. Boleh jadi kalau itu dilakukannya hanya sehari atau hanya beberapa jam. Akan tetapi, bagaimana dengan individu yang hanya diasyikkan dengan secangkir kopi duduk ber jam jam tanpa henti, sementara pemasukan harinya nol, sementara ia sudah berkeluarga?

Baca Juga: Manusia Sebagai Makhluk Sosial Yang Hidup Bermasyarakat

Itulah yang menjadi kesalahan yang tanpa mereka sadari sering dilakukan akibat kelalaian sendiri. Kesalahan ini, sebenarnya akan menjadi masalah besar dalam sebuah keluarga. Namun, hanya belum dapat dirasakan karena sudah membiasakan kesalahan yang dianggap gampang. Sebagai masyarakat aktif, tentu akan merugikan bila waktu yang ada disiasiakan tanpa ada tujuan. Untuk itu, kesalahan yang sering lupa ini menjadi masalah keterpurukan ekonomi ke depan.

Kehidupan Masyarakat Desa
Sebagai masyarakat yang hidup di desa tentu sangat identik dengan pekerjaan petani, berkebun, bahkan melaut. Hanya satu dua lainnya yang mengarah ke dunia dagang. Masyarakat desa banyak yang bekerja pada diri sendiri, artinya mereka hanya bisa bajak sawah untuk menanam padi, selanjutnya berkebun, dan juga melaut. Cari ini menjadi jurus andalan masyarakat untuk pendapatan mereka.

Sebagian besar, pekerjaan ini menjadi prioritas mereka untuk menghasilkan uang. Walaupun melelahkan, namun, itulah yang dapat mereka kerjakan guna bisa menghasilkan pendapatan untuk kehidupan berumah tangga. Masyarakat desa terkadang, sebagian dari mereka akan lupa dengan rutinitas mereka untuk sehari hari. Inilah yang menjadi kesalahan yang dilakukan tanpa mereka sadari.

Sebagaimana kita ketahui, masyarakat banyak yang lalai dengan perkembangan yang ada, sebagai contoh dapat kami sebutkan seperti saat ini musim politik. Banyak diantara mereka lalai dengan apa yang harus mereka kerjakan sebagai pekerjaan pokok untuk menutupi kebutuhan keluarga. Malah sering kali kita lihat, sebagai dari mereka diasyikkan berinteraksi satu sama lain terkait perkembangan politik, pada hal apa yang mereka bicarakan yang ditemani oleh secangkir kopi belum tentu ada manfaatnya untuk ia sendiri.

Bahkan mereka juga sering mengabaikan rutinitas yang bisa menghasilkan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan keluarga masing masing. Karena merasa asyik dengan apa yang mereka bicarakan, akan terabaikan tanggung jawab dalam keluarga masing masing individu. Melihat masyarakat Aceh, terkadang juga ada lucunya, dan hal ini tentu jauh berbeda dengan masyarakat luar Aceh.

Masyarakat Aceh khususnya di desa, membahas informasi yang sedang berkembang, terkadang ada dampak bagi mereka. Sebagai contoh keunikan masyarakat Aceh di desa, yang menurut saya sendiri lucu sih, sedang musim ke sawah terkadang hari ini bisa dihabiskan untuk menanam padi, akan tetapi bisa terbengkalai dengan alasan keenakan duduk di warung kopi berbicara politik, yang pada hal ia sendiri sedang ada kesibukan ke sawah untuk menanam padi.

Akan tetapi, sanking enaknya berbicara di warkop yang juga cocok lawan bicara dan membicarakan perkembangan yang ada, maka terabaikan rutinitas yang tentunya pekerjaan mereka yang harus diselesaikan. Ini tentu menjadi kesalahan individu dan boleh jadi kesalahan ini tidak diakuinya sehingga kehidupan dalam bermasyarakat akan menjadi renggang sosial dan juga budaya.

Padahal, bila mereka fokus dengan apa yang harus mereka lakukan dan atau pekerjaan, maka akan lebih baik dan efektif kehidupan dalam bermasyarakat ke depan. Sempitnya ekonomi, terkadang belum tentu daerah yang krisis ekonomi, akan tetapi mungkin jadi akibat kelalaian ditambah dengan malas bekerja sehingga keterpurukan ekonomi mereka semakin nyata.

0 Response to "Kesalahan Sendiri Yang Sering Terabaikan Akibat Lalai"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel