Sunday, 5 March 2017

Khusus Sarjana: Pulang Kampung Halaman Jangan Bawa Bahasa Toko

Irman fsp | Membaca judul tentu akan bertanya “kok bahasa toko” sih? Itulah yang akan menjadi bahasan dalam blog irman fsp ini. Mengapa harus dibahas? Hal ini menjadi informasi yang hanya diperbincangkan, karena banyak yang lulusan sarjana pulang kampung halaman sudah kaku dengan bahasa daerah. Maka dari, menurut kami cocok dijadikan satu topik hangat hari ini. Alasan irman fsp berbagi informasi ini, mengingat banyak sarjana yang sudah lupa dengan bahasa daerah dan juga sedikit lebih berlagak intelek dalam berdiskusi dengan masyarakat setempat.

Hal ini, mungkin bagi mahasiswa yang baru menyelesaikan pendidikannya, baik itu dari perguruan tinggi negeri maupun swasta, menjadi suatu kebiasaan sehingga terbawa ke arah lingkup desa. Perlu Anda ketahui, bahasa toko di desa tidak paham, bahkan mereka bisa berbalik tanya, apa yang sedang kamu perbincangkan atau menjelaskan. Lucu kan, padahal kamu sudah panjang lebar lo menjelaskan apa yang mereka tanyakan. Lalu siapa yang bodoh dalam hal ini? kamu sebagai lulusan sarjana atau masyarakat?

Interaksi sosial dengan masyarakat desa

Jangan sombong dan egois dalam mempertahankan pendapat. Menurut irman fsp, terkait pertanyaan siapa yang bodoh. Maka, jawabannya adalah kamu yang bodoh yang tidak tahu bagaimana menjelaskan sesuatu pada mereka sehingga mereka mengerti dan paham apa yang kamu maksud. Kok bisa? Bukan nya kamu sudah sarjana? Sarjana, paskasarjana, doktor, bahkan profesor sekalipun yang menggunakan bahasa toko saat berinteraksi dengan masyarakat sehingga membuat mereka tidak mengerti dengan cara penjelasan kamu, maka jawabannya kamu bodoh. Untuk itu jangan bawa bahasa toko ke tempat asalmula seperti Desa.

Mengapa ini menjadi satu topik yang diperbincangkan di irman fsp? Karena, admin juga menyandang gelar sarjana dan tahu betul karakter masyarakat desa saat berinteraksi dengan mahasiswa bahkan yang baru lulus perguruan tinggi. Sejauh ini, masih ada juga lulusan perguruan tinggi yang tidak mengakui kebodohan mereka sendiri saat berinteraksi dengan masyarakat awam di desa. Mengapa demikian? Lulusan sarjana ini terlalu keenakan berbincang dengan bahasa akademis dan juga teoritis, sehingga membuat banyak masyarakat banyak bertanya.

Kok bisa banyak bertanya? Sementara sudah panjang lebar dijelaskan secara terperinci dan juga disertai dengan contoh. Tidak salah, namun bila ia jelaskan dengan gaya bahasa yang ia biasakan di kampus dengan kalangan mahasiswa dan dosen, maka sungguh sudah jelas sekali dan tidak harus ditanyakan lagi karena sudah benar benar jelas. Lalu mengapa juga di kalangan masyarakat desa banyak yang bingung dan tidak paham? Jawabannya, itulah dikarenakan banyak menggunakan bahasa toko.

Apa sih bahasa toko itu, dari tadi asik bahas bahasa toko. Lupa bang maaf.. sebenarnya, bahasa toko itu kata sebutan saja dari irman fsp. Namun, kata sebutan ini sering digunakan dalam kalangan masyarakat desa. Saat mereka tidak mengerti, kalangan sarjana ini menyalahkan masyarakat dengan mudah. Padahal ianya belum bisa mengintrospeksi diri, sehingga tahu dimana letak kegagalan dan kesalahan dalam interaksi sosial sehingga dapat membuat masyarakat tidak mengerti.

Sebagai contoh kecil: seperti bahasa konsolidasi, sosialisasi, kombinasi, interaksi, koordinasi, dan lain sebagainya tentu akan membuat masyarakat bingung bukan? Contoh lainnya dari sektor pertanian: seperti nama pupuk yang sering digunakan oleh masyarakat desa, yakni urea, poska, organik dan lain sebagainya. Apa yang menjadi pertanyaan? Sebagai contoh penjelasan dari lulusan sarjana yang sering membawa bahasa toko yakni di bawah ini:

“bapak bapak yang kami cintai, tolong sedikit perhatian cara menggunakan pupuk/ baja pada tumbuhan tanaman hingga membuat tanaman ini subur yakni diperlukan kombinasi pupuk urea dengan pupuk organik”

Menurut Anda mengerti tidak dengan penjelasan materi menggunakan bahasa “kombinasi” pada masyarakat desa? Kami rasa tentu tidak paham. Lalu bagaimana juga agar mereka lebih paham? Berikut contohnya:

“bapak bapak yang kami cintai, tolong sedikit perhatian cara menggunakan pupuk/ baja pada tumbuhan tanaman hingga membuat tanaman ini subur yakni diperlukan campuran pupuk kandang dengan pupuk kimia seperti pupuk (sebutkan nama pupuk tersebut yang mudah dipahami dan sering disebut dalam kalangan masyarakat)”

Mengapa harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti? Agar cepat paham dan penjelasan kita tidak sia sia. Maka dari itu, gunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat agar Anda tidak dianggap bodoh oleh mereka. Begitu juga dengan gaya bahasa lainnya, seperti koordinasi, konsolidasi, sosialisasi, dan sebagainya. Boleh Anda menggunakannya, namun lihat apa mereka mengerti dengan apa yang sudah Anda terangkan. Untuk itu, apa pun gaya bahasa yang Anda gunakan, sangat disarankan gunakan komunikasi yang baik dan mudah dipahami oleh orang lain.

Berkomunikasi dengan bahasa toko agar lebih terlihat intelek sah sah saja. Namun, gunakan gaya itu pada tempatnya agar cepat singkron dan nyambung. Lihat juga lingkungan Anda, apakah sudah mendukung gaya bahasa toko atau tidak. Sebagai akhir kata, apa pun gaya bahasa yang kamu biasakan, maka sesuaikan dengan kemampuan komunikan di lingkungan Anda atau mampu menyesuaikan dengan masyarakat yang ada.


EmoticonEmoticon