Proses dan Hambatan Komunikasi Antar Budaya

Irman fsp | Komunikasi tidak bisa dipandang sekedar sebagai sebuah kegiatan yang menghubungkan manusia dalam keadaan pasif, tetapi komunikasi harus dipandang sebagai proses yang menghubungkan manusia melalui sekumpulan tindakan yang terus menerus diperbaharui. Jadi komunikasi itu selalu terjadi antara sekurang-kurangnya dua orang peserta komunikasi atau mungkin lebih banyak dari itu (kelompok, organisasi, publik dan massa) yang melibatkan pertukaran tanda-tanda melalui suara, seperti telepon atau radio, kata-kata, seperti pada halaman buku dan surat kabar cetak, atau suara dan kata-kata, yaitu melalui televisi.

Proses komunikasi antar budaya

Komunikasi sebagai proses (itulah salah satu karakteristik komunikasi) karena komunikasi itu dinamik, selalu berlangsung dan sering berubah-ubah. Sebuah proses terdiri dari beberapa sekuen yang dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Semua sekuen berkaitan satu sama lain meskipun dia selalu berubah-ubah. Jadi pada hakikatnya proses komunikasi antar budaya sama dengan proses komunikasi lain, yakni suatu proses yang interaktif dan transaksional serta dinamis.

Komunikasi antar budaya yang interaktif adalah
Komunikasi yang dilakukan oleh komunikator dengan komunikan dalam dua arah/ timbal balik (two way communication) namun masih berada pada tahap rendah ( Wahlstrom, 1992). Apabila ada proses pertukaran pesan itu memasuki tahap tinggi, misalnya saling mengerti, memahami perasaan dan tindakan bersama maka komunikasi tersebut telah memasuki tahap transaksional (Hybels dan Sandra, 1992).

Menurut Alo liliweri 2007, Komunikasi transaksional meliputi tiga unsur penting yakni di bawah ini:
  1. Keterlibatan emosional yang tinggi, yang berlangsung terus-menerus dan berkesinambungan atas pertukaran pesan.
  2. Peristiwa komunikasi meliputi seri waktu, artinya berkaitan dengan masa lalu, kini dan yang akan datang.
  3. Partisipan dalam komunikasi antar budaya menjalankan peran tertentu.

Baik komunikasi interaktif maupun transaksional mengalami proses yang bersifat dinamis, karena proses tersebut berlangsung dalam konteks sosial yang hidup, berkembang dan bahkan berubah-ubah berdasarkan waktu, situasi dan kondisi tertentu. Karena proses komunikasi yang dilakukan merupakan komunikasi antar budaya maka kebudayaan merupakan dinamisator atau ”penghidup” bagi proses komunikasi tersebut.

Baca Juga: Tujuan dan Dimensi Komunikasi Antar Budaya

Hambatan Komunikasi Antar budaya
Komunikasi antar budaya sebagai interaksi dari komunikator dan komunikan yang berbeda budaya, tentunya terdapat beberapa hambatan karena perbedaan yang ada diantara keduanya. Chaney & Martin (2004) memberikan sembilan jenis hambatan dalam komunikasi antar budaya.

Hambatan-hambatan tersebut dapat Anda ketahui yakni di bawah ini:
  1. Fisik (Physical)
    Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.
  2. Budaya (Cultural)
    Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.
  3. Persepsi (Perceptual)
    Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda.
  4. Motivasi (Motivational)
    Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.
  5. Pengalaman (Experiantial)
    Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu.
  6. Emosi (Emotional)
    Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
  7. Bahasa (Linguistic)
    Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.
  8. Nonverbal
    Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi.Contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan (receiver) ketika pengirim pesan (sender) melakukan komunikasi. Wajah marah yang dibuat tersebut dapat menjadi penghambat komunikasi karena mungkin saja pengirim pesan akan merasa tidak maksimal atau takut untuk mengirimkan pesan kepada penerima pesan.
  9. Kompetisi (Competition)
    Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan. Contohnya adalah menerima telepon selular sambil menyetir, karena melakukan 2 (dua) kegiatan sekaligus maka penerima pesan tidak akan mendengarkan pesan yang disampaikan melalui telepon selularnya secara maksimal.

Demikian penjelasan terkait dengan proses serta hambatan yang terjadi dalam komunikasi antar budaya yang dapat Anda ketahui pada artikel persembahan Irman fsp. Semoga menjadi informasi menarik dan juga menjadi sumber referensi untuk Anda yang membutuhkan materi kampus ilmu komunikasi.

0 Response to "Proses dan Hambatan Komunikasi Antar Budaya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel