Saturday, 27 January 2018

Pola Pikir Pemuda Desa Zaman Now

Hidup tentu penuh dengan cobaan bahkan rintangan yang tentunya perlu kita arungi. Tanpa beban dan rintangan akan membuat hidup ini hampa terasa los tanpa rasa. Lalu apa yang perlu dilakukan agar hidup lebih bermakna dan bermanfaat. Apakah mengikuti laju yang berjalan atau perlu merubah agar hidup terasa lebih hidup.

Era teknologi banyak muda mudi pada sibuk dengan selfie bahkan lalai sendiri tanpa menyoalkan kemana arah kehidupan ini. Melihat yang zaman now pemuda desa terkesan tidak menyoalkan itu. Mereka lebih kepada mengikuti arus mengalir tanpa merubah arah hidup menjadi lebih baik.

Cara pikir zaman now pemuda desa

Secara tidak sengaja, saya menanyakan pada salah seorang pemuda yang namanya dirahasiakan. Apa yang akan kamu lakukan setelah selesai sekolah tingkat atas (SMA). Ia menjawab memilih kerja apa aja yang bisa ia lakukan. Selanjutnya saya juga bertanya. Apa kemampuan kamu dengan latar belakang SMA?

Jawbannya sungguh unik. Yang penting tenaga insyaallah dapat kerja. Menurut saya jawaban yang super dan logis dengan latar pendidikan menengah atas. Saya simpulkan berarti pemuda ini mengandalkan otot bukan pikiran.

Melihat perkembangan desa, mulai dari sumber ekonomi hingga lahan pekerjaan. Maka, lebih ke pekerjaan turun menurun. Artinya bila orang tua mereka pata pencaharian sawah, ladang, laut, dan gunung. Maka, secara tidak langsung generasi terebut akan menggantikan posisi orang tua mereka.

Pola Pikir Yang Salah, Menurut Mereka Benar
Bicara sisi pendidikan, dari 100%, hanya 30% yang termotivasi untuk melanjutkan pendidikan, selebihnya ikut arus berjalan. Menurut mereka, pendidikan kurang menarik dan hanya membuang waktu selama melanjutkan pendidikan tingkat tinggi. Lulus SMA lebih dari cukup yang penting bisa tulis baca.

Ada sisi baiknya bila dibandingkan dengan yang sama sekali tidak tamat SMA. Akan tetapi lebih baik mampu menyelesaikan sekolah tingkat tinggi yakni kuliah. Sebagai informasi perbedaan pola pokir lulusan SMA dengan lulusan Sarjana jauh lebih baik sarjana yakni terkait pola pikir.

Mereka tentu tidak terpaku pada emosi semata, melainkan banyak cara bahkan wawasan yang bisa ia ambil dalam hal menyikapi masalah, menilai, bahkan mampu memberi solusi yang terbaik tanpa merugikan sebelah pihak. Itu merupakan salah satu kelebihan cara pikir sarjana.

Lalu bagaimana dengan mereka yang pola pikir terlalu kaku? Inilah yang menjadi persoalan muda mudi yang wawasannya rendah. Mengapa demikian? Tidak dapat dipungkiri, ini disebabkan wawasan dan latar belakang pendidikan yang rendah.

Pola Pikir Pemuda Desa
Banyak pemuda desa yang daya pikir rendah bahkan tidak mampu merubah pola kehidupan kearah yang lebih baik. Ini sangat terlihat jelas saat ada suatu masalah yang tidak mampu menyikapi dengan kepala dingin dan dewasa. Mereka lebih mengedepankan emosi.

Prinsip dan ego sangat kental dimana pemuda yang latar belakang pendidikan rendah. Ditambah lagi pola pikir yang tanpa arah. Hal ini sangat saya rasakan dimana pemuda desa yang merupakan tempat tinggal saya serba keterbatasan wawasan. Mereka lebih penting kepentingan pribadi dibandingkan umum, tanpa menyoalkan dampak negatif kedepan.

Banyak pemuda ikut ikutan tanpa menyoalkan masalah terjadi. Tanpa prinsip bahkan komitmen dengan apa yang dilakukan. Hal ini teringat pada suatu kejadian yang pernah berlomba lomba membuat sebuah acara pesta lelucon yang efeknya berdamlak pada sendiri. Tujuannya sebagai pelajaran untuk sasaran. Namun, pesta lelucon tersebuat membawa petaka untuk pemuda itu sendiri

Nah, melihat apa yang terjadi inilah membuat saya berfikir kok bisa pola pikir pemuda ini terlalu kaku dan aneh. Namun, itu lah cara mereka berpikir tanpa menyoalkan ini itu. Keunikan dan aneh juga ikut terjadi pada cara mereka menyikapi masalah. Artinya mampu berbuat secara massal namun, hanya beberapa orang yang bertanggung jawab.

Disini saya juga bisa menyimpulkan bahwa kekompakan bisa dikatakan sangat berkurang. Pertanyaan dari saya mengapa itu terjadi? Kalau menurut saya sih tok hanya keterbatasan wawasan dan pengetahuan. Oleh kerena itu, letak jauh berbeda pola pikir lulusan SMA dengan sarjana.

Kesimpulan dan Saran
Harapan saya khusus untuk pemuda dan juga mudi. Walaupun kalian tidak mampu menyelesaikan pendidikan tingkat tinggi. Maka, jangan mudah betah di desa mu itu. Melangkah lah sejauh mungkin untuk mendapatkan ilmu pengetahuan serta wawasan di kota terdekat.

Dengan melangkah, maka wawasan dan pengalam tentu sudah bertambah, bahkan pola pikir yang dulu kamu anggap benar padahal salah tentu sudah dapat membedakan yang benar dan yang salah. Untuk itu, mulai sekarang khusus kalian yang baru selesai SMA dan masih muda melangkah untuk mencari wawasan di tempat lain dan jangan suka betah di tempat tanah lahir mu. Setelah mendapatkan itu, silahkan pulang atau.


EmoticonEmoticon