Thursday, 6 September 2018

Menilai Kebijakan Bupati Bireuen Jumud dan Kolot? Anggota DPRA Ini Diceramahin Netizen

Ada saja pandangan pandangan yang berbalik, terkadang suatu kebijakan yang sudah ditetapkan sesuai aturan, tetap aja menuai kritikan. Seperti halnya Bupati Bireuen Saifannur baru saja mengeluarkan kebijakan standarisasi warkop serta restauran sesuai dengan syariat islam di Aceh.


Kebijakan ini malah dianggap jumud dan kolot oleh Kautsar M Yus salah seorang anggota DPRA dari fraksi partai Aceh. Menurutnya, kebijakan itu telah membatasi ruang gerak perempuan di ranah publik. Memang salah ya kalau pemkab Bireuen sedang memperkuat syariat, kok dianggap kolot sih?

Melalui akun twitternya, Kautsar menilai peraturan yang menbatasi perempuan di ranah publik dikeluarkan oleh bupati Bireuen dari partai Golkar itu yakni:
Poin yang disorot dalam aturan itu ada pada aturan nomor 7 yang berbunyi: dilarang melayani pelanggan wanita di atas pukul 21.00 WIB, kecuali bersama mahramnya.
Selanjutnya pada aturan nomor 13 yang berbunyi: haram hukumnya laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan mahramnya.
Dua poin di atas, Kautsar merasa malu dengan kebijakan tersebut. Bagaimana menurut masyarakat bireuen? Karena menurut anggota DPRA ini aturan yang ditetapkan tidak masuk akal apa benar karena kabupaten bireuen yang kosmopolit?

Terkait dengan tanggapan Kautsar M Yus, atas kebijakan bupati Bireuen. Maka, tidak sedikit para netizen ceramahin anggota DPRA dari faksi PA ini. Bagaimana cuitannya? Simaak..





Itu cuitan netizen buat anggota DPRA dari fraksi partai aceh. Lalu bagaimana tanggapan anda dengan kebijakan Bupati Bireuen?

1 comments so far

Hana jeut kousar nyan payah sumboe bit nyan,,lage hana neubeut


EmoticonEmoticon