Tuesday, 6 November 2018

Rabu Akhir Bulan Safar (Rabu Abeh) Tradisi atau Budaya?

Apa saja yang dilakukan pada akhir rabu (Rabu Abeh) tepatnya di bulan safar, telah menjadi tradisi bagi masyarakat. Bagaimana tidak, mulai malam rabu sudah mempersiapkan berbagai persiapan untuk merayakan rabu terakhir di bukan safar ini. Apa sebenarnya yang menjadi tradisi rabu abeh pada rabu akhir di bulan safar ini?

Banyak pendapat pendapat terdahulu, katanya dalam satu tahun Allah SWT akan menurunkan sebanyak 320.000 bala petaka (musibah). Bala ini akan diturunkan tepat pada bulan safar di rabu akhir (rabu abeh). Salah seorang arifbillah (ahli ma'rifat) berpendapat dalam setiap tahun akan ada musibah yang terjadi pada hari rabu akhir di bulan safar.

Tradisi atau budaya rabu akhir (rabu abeh) safar

Pendapat pendapat ini diartikan bahwa, bulan safar ini merupakan hari hari tersulit disetiap tahunnya. Oleh karena itu, di hari rabu terakhir banyak beranggapan hari tolak bala. Di bulan safar tepatnya di hari rabu terakhir banyak masyarakat mengadakan doa bersama disertai kanduri. Selain itu, kanduri ini banyak dilakukan di pantai secara bersama.

Terdapat pendapat lain salah satu dari amaliah ulama diantaranya shalat sunat yang dikenal dengan shalat lidaf’il Bala (shalat untuk menolak bala). Shalat sunnah lidaf’il bala’ (tolak bala) merupakan shalat sunnah hajat yang dikerjakan pada malam atau hari rabu akhir bulan Safar, tepatnya pada hari rabu keempat. Shalat sunnah ini dikerjakan empat raka'at dua salam dan bisa dilaksanakan secara berjamaah.

Awal mula munculnya ibadah ini berdasarkan ilham dan ijtihad para ulama salaf maupun ulama sufiyah terdahulu yang teringat bahwa bulan safar adalah bulan yang penuh dengan kesialan dan malapetaka. Seorang sufi asal India, Ibnu Khathiruddin Al-Atthar (w. th 970 H/1562 M), dalam kitab “Jawahir Al-Khamsi” menyebutkan, Syekh Al-Kamil Farid-Din Sakarjanj telah berkata bahwa dia melihat dalam “Al-Awrad Al-Khawarija” nya Syekh Mu’inuddin sebagai berikut:

 أَنَّهُ يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ ثَلاَثُمِائَةِ اَلْفٍ وَعِشْرِيْنَ أَلَفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ وَكُلُّهَا فَيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِرَةِ مِنْ شَهْرِ صَفَرِ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبُ أَيِّمِ تِلْكَ السَّنَةِ، فَمَنْ صَلَّى فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرُأُ فِيْ كُلِّ مِنْهَا بَعْدَ الْفَاتِحَةِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ سَبْعَةَ عَشَرَ وَالْإِخْلاَصَ خَمْسَ مَرَّاتٍ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ مَرَّاةً وِيَدْعُوْ بِهَذَا الدُّعَاءِ حَفَظَهُ االلهُ تَعَالَى بِكَرَمِهِ مِنْ جَمِيْعِ الْبَلاَيَا الَّتِيْ تَنْزِلُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَمْ تُحْمَ حَوْلَهُ بَلِيَّةٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلاَيَا إِلَى تَمَام السَّنَةِ.

Artinya:
"Sesungguhnya dalam setiap tahun diturunkan sekitar 320.000 macam bala’ yang semuanya ditimpakan pada hari rabu akhir bulan Safar. Maka hari itu adalah hari tersulit dalam tahun itu. Barang siapa shalat empat rakaat pada hari itu, dengan membaca di masing-masing rakaatnya setelah Al-Fatihah yakni surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, mu’awwidzatain masing-masing satu kali dan berdoa –do’anya Insya Allah akan disebutkan setelah ini–, maka dengan sifat karomnya Allah, Allah akan menjaganya dari semua bala’ yang turun pada hari itu dan di sekelilingnya akan terhindar dari bala’ tersebut sampai genap setahun” .

Tradisi Bulan Safar di Rabu Akhir (Rabu Abeh)
Walaupun pendapat pendapat di atas mengartikan bulan yang penuh sial atau bulan yang diturunkan berbagai musibah. Namun, banyak kaum kaula muda mudi merayakan dengan cara bersama sama ke pantai untuk berlibur. Hal ini bisa kita lihat tepatnya rabu akhir di bulan safar akan banyak muda mudi ke pantai.

Walaupun ada diantaranya yang mengikuti doa bersama, tidak sedikit juga yang merayakan makan makan bersama ke pantai. Baik itu kaum muda mudi bahkan keluarga pun memanfaatkan momen ini menjadi hari makan bersama di pantai (meuramin). Nah, melihat hal ini apakah rabu akhir bulan safar tradisi atau telah menjadi budaya.

Momen makan bersama ini bukan pendapat, melainkan realita yang terjadi di Aceh. Khususnya kecamatan lhoong tiap rabu akhir bulan safar tentu ikut merayakan kebersamaan meramin (makan bersama) di pantai. Dan setiap pantai akan dipadati pengunjung dari berbagai desa. Menurut saya ini bukan budaya melainkan semacam tradisi yang telah menjadi trending.

Pantai jantang kec lhoong rabu bulan safar

Akan tetapi bila dijadikan sebuah budaya juga sangat baik. Namun, perlu diperkuatkan dalam kanun adat yang bahwa rabu akhir (rabu abeh) bulan safar menjadi hari doa atau wirid bersama. Selain melakukan kanduri juga membaca doa doa serta memuhon ampun dan juga dilindungin dari berbagai musibah.

Doa dan Wirid Bulan Safar di Rabu Akhir
Doa bersama pada bulan safar atau semacam zikir akbar sangat baik bila dilakukan. Apa lagi di bulan yang diturunkan 320.000 musibah ke muka bumi ini. Hal inibtentu akan menjadi sebuah tradisi yang positif atau budaya yang baik secara hukum islam. Ada doa yang bisa di baca khusus doa perlindungan atau doa tolak bala, diantaranya.

1. Pada hari Rabu dimulai dari hari selasa Ashar atau maghrib sampai Ashar atau maghrib hari rabu, sebagaian ulama menganjurkan untuk doa dan wirid menulis tujuh ayat di bawah ini kemudian dilebur dengan air lalu diminum, maka orang tersebut akan dijauhkan dari malapetaka dan sebagai obat penawar. Doa itu adalah

سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ , سَلَامٌ عَلَى نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ , سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ , سَلَامٌ عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ

سَلَامٌ عَلَى إِلْ يَاسِينَ , سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ , سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الفَجْرِ.

2. Memperbanyak juga doa yang sudah warid dari ulama, diantaranya doa ini yang di baca pada hari Rabu akhir safar,

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله العالمين والصلاة والسلام عل ىسِّيدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ
أَللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ اْلقَوِىِّ وَيَاشَدِيْدَ اْلمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّلْتَ بِعِزَّتِكَ جَمِيْعَ خَلْقِكَ إِكْفِنِىْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَامُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ أَللَّهُمَّ بَسِّرْ اْلحَسَنَ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ إِكْفِنِىْ شَرَّ هَذَا اْليَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ اْلبَلِيَاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّابِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ اَللَّهُمَّ إِعْصِمْنَا مِنْ جَهْدِ اْلبَلاَءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ اْلقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ اْلأَعْدَاءِ وَمَوْتِ اْلفُجْأَةِ وَمِنْ شَرِّ السَّامِ وَالْبَرْسَامِ وَالْحُمَى وَاْلبَرَصِ وَاْلجُذَامِ وَاْلأَسْقَامِ وَمِنْ جَمِيْعِ اْلأَمْرَاضِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى َسِّيدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ

Artinya:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah pada junjungan kami, Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya. Allahumma, Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memiliki Kekuatan dan Keupayaan; Ya Allah, Tuhan Yang Mahamulia dan karena Kemuliaan-Mu itu, menjadi hinalah semua makhluk ciptaan-Mu, peliharalah aku dari kejahatan makhluk-Mu; Ya Allah, Tuhan Yang Maha Baik Perbuatan-Nya; Ya Allah, Tuhan Yang Memberi Keindahan, Keutamaan, Kenikmatan dan Kemuliaan; Ya Allah, Tiada Tuhan kecuali hanya Engkau dengan Rahmat-Mu Yang Maha Penyayang.
Sumber: liputanaceh.com


EmoticonEmoticon