Tampilkan postingan dengan label komunikasi antar budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi antar budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Maret 2017

Proses dan Hambatan Komunikasi Antar Budaya

Irman fsp | Komunikasi tidak bisa dipandang sekedar sebagai sebuah kegiatan yang menghubungkan manusia dalam keadaan pasif, tetapi komunikasi harus dipandang sebagai proses yang menghubungkan manusia melalui sekumpulan tindakan yang terus menerus diperbaharui. Jadi komunikasi itu selalu terjadi antara sekurang-kurangnya dua orang peserta komunikasi atau mungkin lebih banyak dari itu (kelompok, organisasi, publik dan massa) yang melibatkan pertukaran tanda-tanda melalui suara, seperti telepon atau radio, kata-kata, seperti pada halaman buku dan surat kabar cetak, atau suara dan kata-kata, yaitu melalui televisi.

Proses komunikasi antar budaya

Komunikasi sebagai proses (itulah salah satu karakteristik komunikasi) karena komunikasi itu dinamik, selalu berlangsung dan sering berubah-ubah. Sebuah proses terdiri dari beberapa sekuen yang dapat dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Semua sekuen berkaitan satu sama lain meskipun dia selalu berubah-ubah. Jadi pada hakikatnya proses komunikasi antar budaya sama dengan proses komunikasi lain, yakni suatu proses yang interaktif dan transaksional serta dinamis.

Komunikasi antar budaya yang interaktif adalah
Komunikasi yang dilakukan oleh komunikator dengan komunikan dalam dua arah/ timbal balik (two way communication) namun masih berada pada tahap rendah ( Wahlstrom, 1992). Apabila ada proses pertukaran pesan itu memasuki tahap tinggi, misalnya saling mengerti, memahami perasaan dan tindakan bersama maka komunikasi tersebut telah memasuki tahap transaksional (Hybels dan Sandra, 1992).

Menurut Alo liliweri 2007, Komunikasi transaksional meliputi tiga unsur penting yakni di bawah ini:
  1. Keterlibatan emosional yang tinggi, yang berlangsung terus-menerus dan berkesinambungan atas pertukaran pesan.
  2. Peristiwa komunikasi meliputi seri waktu, artinya berkaitan dengan masa lalu, kini dan yang akan datang.
  3. Partisipan dalam komunikasi antar budaya menjalankan peran tertentu.

Baik komunikasi interaktif maupun transaksional mengalami proses yang bersifat dinamis, karena proses tersebut berlangsung dalam konteks sosial yang hidup, berkembang dan bahkan berubah-ubah berdasarkan waktu, situasi dan kondisi tertentu. Karena proses komunikasi yang dilakukan merupakan komunikasi antar budaya maka kebudayaan merupakan dinamisator atau ”penghidup” bagi proses komunikasi tersebut.

Baca Juga: Tujuan dan Dimensi Komunikasi Antar Budaya

Hambatan Komunikasi Antar budaya
Komunikasi antar budaya sebagai interaksi dari komunikator dan komunikan yang berbeda budaya, tentunya terdapat beberapa hambatan karena perbedaan yang ada diantara keduanya. Chaney & Martin (2004) memberikan sembilan jenis hambatan dalam komunikasi antar budaya.

Hambatan-hambatan tersebut dapat Anda ketahui yakni di bawah ini:
  1. Fisik (Physical)
    Hambatan komunikasi semacam ini berasal dari hambatan waktu, lingkungan, kebutuhan diri, dan juga media fisik.
  2. Budaya (Cultural)
    Hambatan ini berasal dari etnik yang berbeda, agama, dan juga perbedaan sosial yang ada antara budaya yang satu dengan yang lainnya.
  3. Persepsi (Perceptual)
    Jenis hambatan ini muncul dikarenakan setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai suatu hal. Sehingga untuk mengartikan sesuatu setiap budaya akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda.
  4. Motivasi (Motivational)
    Hambatan semacam ini berkaitan dengan tingkat motivasi dari pendengar, maksudnya adalah apakah pendengar yang menerima pesan ingin menerima pesan tersebut atau apakah pendengar tersebut sedang malas dan tidak punya motivasi sehingga dapat menjadi hambatan komunikasi.
  5. Pengalaman (Experiantial)
    Experiental adalah jenis hambatan yang terjadi karena setiap individu tidak memiliki pengalaman hidup yang sama sehingga setiap individu mempunyai persepsi dan juga konsep yang berbeda-beda dalam melihat sesuatu.
  6. Emosi (Emotional)
    Hal ini berkaitan dengan emosi atau perasaan pribadi dari pendengar. Apabila emosi pendengar sedang buruk maka hambatan komunikasi yang terjadi akan semakin besar dan sulit untuk dilalui.
  7. Bahasa (Linguistic)
    Hambatan komunikasi yang berikut ini terjadi apabila pengirim pesan (sender)dan penerima pesan (receiver) menggunakan bahasa yang berbeda atau penggunaan kata-kata yang tidak dimengerti oleh penerima pesan.
  8. Nonverbal
    Hambatan nonverbal adalah hambatan komunikasi yang tidak berbentuk kata-kata tetapi dapat menjadi hambatan komunikasi.Contohnya adalah wajah marah yang dibuat oleh penerima pesan (receiver) ketika pengirim pesan (sender) melakukan komunikasi. Wajah marah yang dibuat tersebut dapat menjadi penghambat komunikasi karena mungkin saja pengirim pesan akan merasa tidak maksimal atau takut untuk mengirimkan pesan kepada penerima pesan.
  9. Kompetisi (Competition)
    Hambatan semacam ini muncul apabila penerima pesan sedang melakukan kegiatan lain sambil mendengarkan. Contohnya adalah menerima telepon selular sambil menyetir, karena melakukan 2 (dua) kegiatan sekaligus maka penerima pesan tidak akan mendengarkan pesan yang disampaikan melalui telepon selularnya secara maksimal.

Demikian penjelasan terkait dengan proses serta hambatan yang terjadi dalam komunikasi antar budaya yang dapat Anda ketahui pada artikel persembahan Irman fsp. Semoga menjadi informasi menarik dan juga menjadi sumber referensi untuk Anda yang membutuhkan materi kampus ilmu komunikasi.

Pola Komunikasi Antar Budaya

Irman fsp | Istilah pola komunikasi biasa disebut juga sebagai model, akan tetapi maksudnya sama, yaitu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan pendidikan keadaan masyarakat. Perlu Anda ketahui, terkait dengan pola pola dalam ilmu komunikasi. Artinya, beda komunikasi maka berbedalah penjelasannya.

Pola adalah bentuk atau model (atau, lebih abstrak, suatu set peraturan) yang biasa di pakai untuk membuat atau untuk menghasilkan suatu atau bagian dari sesuatu, khususnya jika yang di timbulkan cukup mencapai suatu sejenis untuk pola dasar yang dapat di tunjukkan atau terlihat. (id.wikipedia.org)

Komunikasi antar budaya

Pada artikel sebelumnya, Irman fsp sudah pernah membagikan terkait dengan Pola komunikasi merupakan model dari proses komunikasi, sehingga dengan adanya berbagai macam model komunikasi dan bagian dari proses komunikasi akan dapat ditemukan pola yang cocok dan mudah digunakan dalam berkomunikasi. Untuk itu, pada artikel ini, Irman fsp menjelaskan pola komunikasi antar budaya menurut ahli.

Komunikasi berawal dari gagasan yang ada pada seseorang, gagasan itu di olahnya menjadi pesan dan di kirimkan melalui media tertentu kepada orang lain sebagai penerima. Penerima pesan, dan sudah mengerti pesannya kepada pengirim pesan. Dengan menerima tanggapan dari si penerima pesan itu, pengirim pesan dapat menilai efektifitas pesan yang di kirimkannya. Berdasarkan tanggapan itu, pengirim dapat mengetahui apakah pesannya di mengerti dan sejauh mana pesanya di mengerti oleh orang yang di kirim pesan itu.

Sedangkan pola komunikasi menurut (Effendy, 1986) adalah proses yang dirancang untuk mewakili kenyataan keterpautannya unsur-unsur yang di cakup beserta keberlangsunganya, guna memudahkan pemikiran secara sistematik dan logis. Komunikasi adalah salah satu bagian dari hubungan antar manusia baik individu maupun kelompok dalam kehidupan sehari-hari (Effendy, 1986) dari pengertian ini jelas bahwa Komunikasi melibatkan sejumlah orang dimana seorang menyatakan sesuatu kepada orang lain, jadi yag terlibat dalam Komunikasi itu adalah manusia itu.

Baca juga: Prinsip dasar komunikasi antar budaya

Menurut Effendy (1989:32) pola komunikasi antar budaya terdiri menjadi tiga macam yaitu, komunikasi satu arah, komunikasi dua arah, dan komunikasi multi arah. Berikut penjelasannya yang dapat Anda ketahui persembahan Irman fsp di bawah ini:
  1. Pola Komunikasi satu arah
    Merupakan proses penyampaian pesan dari Komunikator kepada Komunikan baik menggunakan media maupun tanpa media, tanpa ada umpan balik dari Komunikan dalam hal ini komunikan bertindak sebagai pendengar saja.
  2. Pola Komunikasi dua arah atau timbal balik (Two way traffic aommunication)Merupakan komunikator dan komunikan menjadi saling tukar fungsi dalam menjalani fungsi mereka, komunikator pada tahap pertama menjadi komunikan dan pada tahap berikutnya saling bergantian fungsi. Namun pada hakekatnya yang memulai percakapan adalah komunikator utama, komunikator utama mempunyai tujuan tertentu melalui proses Komunikasi tersebut, Prosesnya dialogis, serta umpan balik terjadi secara langsung. (Siahaan, 1991)
  3. Pola Komunikasi multi arah
    Merupakan proses komunikasi terjadi dalam satu kelompok yang lebih banyak di mana komunikator dan komunikan akan saling bertukar pikiran secara dialogis.

Demikian informasi terkait dengan pola komunikasi antar budaya yang dapat Anda ketahui persembahan Irman fsp. Semoga dengan adanya informasi materi kampus ilmu komunikasi ini, dapat menjadi referensi kuat untuk mahasiswa yang sedang membutuhkan informasi yakni komunikasi antar budaya.

Jumat, 25 Maret 2016

Tujuan dan Dimensi Komunikasi Antar Budaya

Irman fsp – Pada artikel sebelumnya kami sudah menjelaskan pengertian komunikasi antar budaya. Namun pada artikel lanjutan yang juga terkait dengan komunikasi antar budaya kami menjelaskan mengenai tujuan serta dimensi komunikasi antar budaya yang juga perlu diketahui. Dalam hal ini Komunikasi antar budaya diharapkan berperan memperbanyak dan memperdalam persamaan dalam persepsi dan pengalaman seseorang.

Namun demikian karakter budaya cenderung memperkenalkan kita kepada pengalaman pengalaman yang berbeda sehingga membawa kita kepada persepsi yang berbeda- beda atas dunia eksternal kita. komunikasi dan budaya yang mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya, seperti yang dikatakan Edward
tujuan komunikasi antar budaya
Poto: belajarkomunikasi.com

T. Hall (dalam Lubis, 2006:2), bahwa ‘komunikasi adalah budaya’ dan ‘budaya adalah komunikasi’. Pada satu sisi, komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik  secara horizontal, dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya, ataupun secara vertikal dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Pada sisi lain budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai untuk kelompok tertentu. Dari tema pokok demikian, maka perlu pengertian pengertian operasional dari kebudayaan dan kaitannya dengan komunikasi antar budaya.

Ada 3 Dimensi komunikasi antar budaya yang perlu diperhatikan yakni sebagai berikut:
  1. Tingkat masyarakat kelompok budaya dari partisipan-partisipan komunikasi Istilah kebudayaan telah digunakan untuk menunjuk pada   macam-macam tingkat lingkungan dan kompleksitas dari organisasi sosial. Umumnya istilah kebudayaan mencakup Kawasan – kawasan di dunia (budaya timur/barat), Sub kawasan-kawasan di dunia (budaya Amerika Utara/Asia), Nasional/ Negara (budaya Indonesia/ Perancis/ Jepang), Kelompok-kelompok etnik-ras dalam negara (budaya orang Amerika Hutam, budaya Amerika Asia, budya Cina Indonesia), Macam-macam sub kelompok sosiologis berdasarkan kategorisasi jenis kelamin kelas sosial. Countercultures (budaya Happie, budaya orang dipenjara, budaya gelandangan, budaya kemiskinan).
  2. Konteks sosial tempat terjadinya komunikasi antar budaya. Komunikasi dalam semua konteks merupakan persamaan dalam hal unsur- unsur dasar dan proses komunikasi manusia (transmitting, receiving, processing). Tetapi adanya pengaruh kebudayaan yang tercakup dalam latar belakang pengalaman individu membentuk pola-pola persepsi pemikiran.Penggunaan pesan-pesan verbal/nonverbal serta hubungan-hubungan antarnya. Maka variasi kontekstual, merupakan dimensi tambahan yang mempengaruhi prose-proses komunikasi antar budaya misalnya komunikasi antar orang Indonesia dan Jepang dalam suatu transaksi dagang akan berbeda dengan komunikasi antar keduanya dalam berperan sebagai dua mahasiswa dari suatu universitas.Jadi konteks sosial khusus tempat terjadinya komunikasi antar budaya memberikan pada para partisipan hubungna-hubungan antar peran. ekpektasi, norma-norma dan aturan- aturan tingkah laku yang khusus.
  3. Saluran yang dilalui oleh pesan-pesan komunikasi antar budaya (baik yang bersifat verbal maupun nonverbal


Tujuan Komunikasi Antar Budaya yang dapat diketahui
Secara umum sebenarnya tujuan komunikasi antar budaya antara lain untuk menyatakan identitas sosial dan menjembati perbedaan antar budaya melalui perolehan informasi baru, mempelajari sesuatu yang baru yang tidak pernah ada dalam kebudayaan, serta sekedar menapatkan hiburan atau melepaskan diri. Komunikasi antar budaya yang intensif dapat mengubah persepsi dan sikap orang lain, bahkan dapat meningkatkan kreativitas manusia.

Berbagai pengalaman atas kekeliruan dalam komunikasi antar budaya sering membuat manusia makin berusaha mengubah kebiasaan berkomunikasi, paling tidak melalui pemahaman terhadap latar belakang budaya orang lain. Banyak masalah komunikasi antar budaya sering kali timbul hanya karena orang kurang menyadari dan tidak mampu mengusahakan cara efektif dalam berkomunikasi antar budaya (Liliweri, 2004: 254).

Menurut William Howel (1982, dalam Liliweri, 2004: 225), setiap individu mempunyai tingkat kesadaran dan kemampuan yang berbeda-beda dalam berkomunikasi antar budaya. Tingkat kesadaran dan kemampuan itu terdiri atas empat kemungkinan, yaitu:
  1. Seorang sadar bahwa dia tidak mampu memahami budaya orang lain. Keadaan ini terjadi karena dia tahu diri bahwa dia tidak mampu memahami perbedaan-perbedaan budaya yang dihadapi. Kesadaran ini dapat mendorong orang untuk melakukan eksperimen bagi komunikasi antar budaya yang efektif.
  2. Dia sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain. Keadaan ini merupakan yang ideal artinya kesadaran akan kemampuan itu dapat mendorong untuk memahami, melaksanakan, memelihara dan mengatasi komunikasi antar budaya.
  3. Dia tidak sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain. Keadaan ini dihadapi manakala orang tidak sadar bahwa dia sebenarnya mampu berbuat untuk memahami perilaku orang lain, mungkin orang lain menyadari perilaku komunikasi dia.
  4. Dia tidak sadar bahwa dia tidak mampu menghadapi perbedaan antar budaya, keadaan ini terjadi manakala seseorang sama sekali tidak menyadari bahwa sebenarnya dia tidak mampu menghadapi perilaku budaya orang lain.

Selain itu, Alo Liliweri (2003) juga mengemukakan ada beberapa alasan mengapa diperlukan komunikasi antar budaya, antara lain dapat Anda ketahui di bawah ini:
  1. Membuka diri memperluas pergaulan.
  2. Meningkatkan kesadaran diri.
  3. Etika/etis.
  4. Mendorong perdamaian dan meredam konflik.
  5. Demografis.
  6. Ekonomi.
  7. Menghadapi teknologi komunikasi.
  8. Menghadapi era globalisasi.


Komunikasi antar budaya sangat penting karena juga memiliki tujuan antara lain yang pertama membangun saling percaya dan saling menghormati sebagai bangsa berbudaya dalam upaya memperkokoh hidup  berdampingan  secara damai dengan jalan mempersempit misunderstandimg dengan cara mencairkan prasangka-prasangka rasial, etnik, primordial dari satu bangsa atas bangsa lain.

Litvin (dalam Purwasito, 2003:47) mengatakan bahwa dengan adanya komunikasi multikultural akan mempengaruhi secara langsung baik pengaruh yang bersifat kognitif maupun yang bersifat afektif yaitu:
  1. Memberi kepekaan terhadap diri seseorang tentang budaya asing sehingga dapat merangsang pemahaman yang lebih baik tentang budaya sendiri dan mengerti bias-biasnya.
  2. Memperoleh kemampuan untuk benar-benar terlibat dalam tindak komunikasi dengan orang lain yang berbeda-beda latar belakang budayanya sehingga tercipta interaksi yang harmonis dan langgeng,
  3. Memperluas cakrawala budaya asing atau budaya orang lain, sehingga lebih menumbuhkan empati dan pengalaman seseorang, yang mampu menumbuhkan dan memelihara wacana dan makna kebersamaan
  4. Membantu penyadaran diri bahwa sistem nilai dan budaya yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dapat dibandingkan an dipahami.

Demikian tujuan dan dimensi komunikasi antar budaya, dalam ilmu komunikasi. Perlu Anda ketahui tujuan komunikasi antar budaya serta dimensi dari komunikasi antar budaya itu sendiri. Semoga dengan adanya artikel ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua.
Sumber: landasanteori.com.

Senin, 14 Desember 2015

Istilah Yang Berkaitan dengan komunikasi Antar Budaya

Irman fsp | Dalam buku Ilmu Komunikasi oleh Daryanto (2010:83), mengutip dari Sitaram (1970), menegaskan perbedaan intercultural communication dengan internal communication yang diartikan sebagai interaksi antara struktur-struktur politik atau negara-negara, yang sering dilakukan oleh wakil-wakil dari Negara atau bangsa tersebut.

Ia jua mengemukakan tentang intracultural communication yang terjadi antara individu dari kebudayaan yang sama dan bukan antara individu dari kebudayaan yang berbeda.Sedangkan minority communication adalah komunikasi antara anggota-anggota suatu sub-budaya minoritas dengan anggota-anggota budaya mayoritas yang dominan.

Perbedaan komunikasi antar budaya

Arthur Smith (1971), mengemukakan tentang transracial commnunication sebagai pengertian yang dicapai oleh orang-orang dari latar belakang etnik atau ras yang berbeda dalam suatu situasi interaksi verbal. Dalam pengertian ini, tercakup dimensi rasial maupun etnik. Adapun hal yang membedakan komunikasi transracial dengan komunikasi internrasial hanyalah dalam perbedaan arti.

Rich (1974), mengemukakan hal sebaliknya, terutama tentang pengertian dari minority dan majority sebagai suatu hal yang bersifat relative serta hasil penelitian yang subjektif. Maka ia lebih memilih istilah interracial communication yaitu komunikasi antar anggota-anggota dari kelompok-kelompok rasial yang berbeda.

Ia pun memberikan pengertian lain, contracultural communication, yaitu komunikasi antara anggota-anggota dari dua kebudayaan yang asing satu sama lain, tetapi secara relative sejajar dalam suatu hubungan colonial, dimana satu kebudayaan dipaksa untuk tunduk pada kekuasaan kebudayaan yang lain.


Prosser (1978), merumuskan countercultural contracultural sebagai interaksi antara anggota-anggota suatu kelompok sub-budaya yang anggota-anggotanya terasingkan dari kebudayaan masyarakat yang dominan. Tetapi secara aktif dapat melawan nilai-nilai sehingga seringkali menghasilkan konflik.

Dood (1982), membagi situasi perbedaan antar budaya, khususnya yang biasa dimasukkan kedalam pengertian komunikasi sub-budaya adalah sebagai berikut :
  1. Interethnic Communication.
    Yaitu komunikasi antara dua atau lebih orang dari luar latar belakang etnik yang berbeda. Kelompok etnik adalah kumpulan orang yang dapat dikenal secara unik dari warisan tradisi kebudayaan yang sama, yang seringkali asalnya bersifat nasional. Di Indonesia tentunya yang dimaksud dengan kelompok etnik ialah berbagai suku bangsa yang ada dalam wilayah Negara Indonesia, seperti suku jawa, sunda, batak, minang, banjar dan lain-lain.
  2. Interracial Communication.
    Yakni komunikasi antara dua atau lebihorang dari latar belakang ras yang berbeda. Dalam hal ini ras di artikan sebagai ciri-ciri penampilan fisik yang diturunkan dan diwariskan secara genetik.Pokok perhatian yang penting disini adalah bahwa perbedaan-perbedaan ras menyebabkan perbedaan perceptual yang menghambat berlangsungnya komunikasi, bahkan sebelum ada sama sekali usaha untuk berkomunikasi.
  3. Countercultural Communication.
    Melibatkan orang-orang dari budaya asal atau pokok yang berkomunikasi  dengan orang-orang dari sub-budaya yang terdapat dalam budaya pokok tadi. Dengan mengutip perumusan Prosser tentang countercultural communication, Dood menekankan sifat dari sub-budaya pada situasi khusus antar budaya yang menolak nilai-nilai yang sudah berlaku dan diakui masyarakat luas saat ini.
  4. Social Class Communication.
    Beberapa perbedaan antara orang-orang adalah berdasarkan atas status yang ditentukan oleh pendapatan, pekerjaan dan pendidikan.Perbedaan ini menciptakan kelas-kelas sosial dalam masyarakat.Menyertai perbedaan ini adalah perbedaan dalam hal pandangan, adat kebiasaan dan sebagainya.
  5. Group Membership.
    Merupakan unit-unit sub-budaya yang cukup menonjol, berdasarkan homogenitas dalam karakteristik ideologi, ditambah dengan loyalitas kelompok banyak perbedaan antar kelompok yang meletus menjadi konflik serius. Misalnya perang antara pemeluk kepercayaan atau agama.

Perbedaan antara sub-budaya (Dood) merumuskan international communication massa sebagai komunikasi antara Negara-negara oleh media massa, cara-cara diplomatic, dan saluran-saluran antarpribadi lainnya. Hal yang menjadi pusat perhatian bukanlah bentuk dari pesan, melainkan kenyataan bahwa variable geografik, politik dan nasionalitas akan mendominasi transaksi yang terjadi.
Penulis: Zarkani, S.Ag, MAP

Hakikat Pokok Komunikasi Dalam Perkembangan Budaya

Irman fsp - Hakikat pokok komunikasi dalam perkembangan budaya hampir setiap orang butuh untuk mengadakan kontak sosial dengan orang lain, kebutuhan ini dipenuhi melalui saling pertukaran pesan yang dapat menjembatani individu agar tidak terisolir. Pesan-pesan diwujudkan melalui manusia. Implikasi dari perilaku komunikasi verbal; maupun nonverbal dapat berfungsi sebagai pesan.

Makna komunikasi dirumuskan sebagai sesuatu yang terjadi bilamana makna yang dilekatkan  pada perilaku ataupun pada hasil sebagai akibat dari perilaku tersebut. Ini berarti bahwa setiap saat seseorang memperhatikan perilaku atau akibat dari perilaku kita serta memberikan makna padanya. Dengan demikian, komunikasi telah terjadi, tanpa harus dibatasi apakah perilaku itu dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja, dengan maksud tertentu atau tanpa maksud atau tujuan.

komunikasi dalam budaya
Komunikasi dalam perkembangan budaya

Pembahasan tentang perilaku tak bisa lepas dari hakekat komunikasi yang memiliki unsur-unsur yang saling berkaitan, diantaranya sebagai berikut:
  1. Sumber.
    Merupakan orang yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi, yakni keinginan untuk membagi keadaan internal sendiri, baik yang bersifat emosional maupun informasional dengan diri sendiri. Kebutuhan ini bisa berupa keinginan untuk memperoleh pengakuan sosial sampai pada keinginan untuk mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain.
  2. Meng-encode.
    Karena keadaan internal tidak dapat dibagi bersama secara langsung, maka diperlukan simbol-simbol yang mewakili. Encoding adalah suatu aktivitas internal pada sumber dalam menciptakan pesan melalui pemilihan pada simbol-simbol verbal dan nonverbal, yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata bahasa dan sintaksis yang berlaku pada bahasa yang digunakan.
  3. Pesan.
    Merupakan hasil encoding. Pesan adalah seperangkat simbol-simbol verbal atau nonverbal yang mewakili keadaan khusus sumber pada satu dan tempat tertentu.

    Baca Juga: Pentingnya Komunikasi Antar Budaya Dalam Organisasi
  4. Saluran.
    Merupakan sarana fisik penyampaian pesan dari sumber kepada penerima atau yang menghubungkan orang kepada orang lain secara umum.
  5. Penerima.
    Adalah orang-orang yang menerima pesan dan dengan demikian terhubungkan dengan sumber pesan. Penerima pesan bisa orang yang dimaksud oleh sumber atau orang lain yang kebetulan mendapatkan kontak juga dengan pesan yang dilepaskan oleh sumber dan memasuki saluran.
  6. Men-decode.
    Decoding merupakan bagian kegiatan internal dari penerima.Melalui indera, penerima mendapatkan macam-macam data dalam bentuk mentah, yang harus di ubah kedalam pengalaman-pengalaman yang mengandung makna.
  7. Respons penerima.Suatu yang telah diputuskan oleh penerima untuk dilakukan terhadap pesan. Respons dapat bervariasi sepanjang dimensi minimum sampai maksimum.
  8. Balikan (feedback).
    Merupakan informasi bagi sumber sehingga ia dapat menilai efektivitas komunikasi untuk selanjutnya menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.
  9. Gangguan (noise).
    Gangguan beraneka ragam, untuk itu harus dioperasionalkan dan dianalisis kemungkinan terjadinya kegagalan komunikasi. Noise dapat masuk kedalam sistem komunikasi manapun, merupakan segala sesuatu yang mengganggu atau membuat kacau penyampaian pesan, termasuk yang bersifat pisik dan psikis.
  10. Bidang pengalaman.
    Komunikasi dapat terjadi sejauh para pelaku memiliki pengalaman-pengalaman yang sama. Perbedaan dapat mengakibatkan komunikasi menjadi sulit, walaupun perbedaan tidak dapat dihilangkan, harapan untuk terjadinya komunikasi sungguh mungkin terlaksana.
  11. Konteks komunikasi.
    Komunikasi selalu terjadi dalam suatu konteks tertentu, baik pada dimensi fisik yang merupakan lingkungan konkrit dan nyata tempat terjadinya komunikasi, seperti ruangan, halaman, ataupun jalanan.Dari segi dimensi sosial, meliputi adat istiadat, situasi rumah dan lain-lain. Adapun dari segi dimensi norma bisa mencakup semua aspek kehidupan bermasyarakat.
Penulis: Zarkani, S.Ag, MAP

Minggu, 13 Desember 2015

Pentingnya Komunikasi Antar Budaya Dalam Organisasi

Irman fsp - Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok yang diwariskan secara turun menurun oleh generasi generasinya. Budaya terbentuk berbagai unsur yang kompleks, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan dan karya seni. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang orang yang berbeda budaya maka menyesuaikan perbedaan perbedaannya, ini membuktikan bahwa budaya itu penting untuk dipelajari.

Komunikasi antar budaya merupakan komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosial ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Seperti yang kita ketahui bahwa budaya mempengaruhi cara seseorang berkomunikasi. Budaya bertanggung jawab atas seluruh aspek komunikasi yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok, baik secara verbal maupun non verbal. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.

komunikasi dan budaya sangat penting dalam organisasi
budaya dalam organisasi

Melville J.Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganik.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma social, ilmu pengetahuan  serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Komunikasi Dalam Organisasi Berbeda Budaya
Komunikasi dalam organisasi sangat erat hubungannya dengan komunikasi antar budaya, mengapa? Karena dalam sebuah organisasi terdapat individu individu yang berbeda budaya, apa lagi organisasi tingkat nasional yang pastinya anggotanya banyak yang berbeda wilayah tempat asal. Nah disini, bagi anda yang ingin aktif dalam sebuah organisasi, maka anda harus menguasai komunikasi antar budaya guna untuk dapat sepaham dan seirama. Mungkin ada yang berfikir, bahwa komunikasi yang efektif hanya sebatas penyampaian informasi, ide, gagasan dan sebagainya kepada penerima atau komunikan. Namun bila anda kurang paham dengan budaya orang lain malah bisa bisa kebalikan.


Dalam sebuah organisasi maka sangatlah penting membangun komunikasi yang baik antara sesama pengurus organisasi. Dalam organisasi juga terdapat pengurus yang berbeda budaya dengan pengurus lainnya. Bila anda tidak mengenal budaya dalam berkomunikasi maka akan terjadi yang tidak inginkan, seperti salah paham. Untuk menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi maka anda harus memahami budaya orang lain supaya tidak terjadi salah paham.

Komunikasi dalam organisasi mungkin mengenal budaya itu penting. Tujuannya agar tidak terjadi salah paham dalam organisasi. Mungkin bagi anda yang berkecimpung dalam organisasi satu daerah maka komunikasi antar budaya kurang berperan, namun bagi anda yang aktif dalam organisasi yang terdapat anggotanya berbeda daerah satu sama lain, maka komunikasi antar budaya penting anda pelajari.

Contoh yang membedakan budaya dalam berkomunikasi misalnya orang indonesia dengan india dalam meng iyakan pendapat orang. Orang Indonesia meng iyakan pendapat orang dengan cara menggangguk anggukkan kepala, ini jelas berbeda dengan orang India, mereka meng iyakan pendapat orang dengan cara menggeleng gelengkan kepala, dan ini juga terjadi pada negara Afrika sebagian.

Nah, dalam hal ini coba anda bayangkan bila anda menjumpai orang yang sangat jauh perbedaan budaya dengan anda. Sementara anda ingin mengetahui alamat rumah seseorang. Misalnya, anda menanyakan alamat jalan rumah pada orang yang berbeda budaya dengan anda, misalnya “Pak atau Buk benarkah ini alamat rumah Pak Irman?” Dan mereka menjawab “iya dengan gelengan kepala mereka” apa yang terjadi? Pastinya anda berfikir “ohh,,, berarti bukan, sementara mereka jelas menjawab “iya”.

Begitu juga dengan sebutan yang beda namun artinya sama, ini juga dapat terjadi miss communication. Maka dengan itu, komunikasi antar budaya sangat penting dipelajari guna tidak terjadi salah paham antara kedua individu. Dalam organisasi jelas terdapat individu yang berbeda budaya dengan anda, maka dengan mengetahuinya, anda sudah pasti mudah dalam berkomunikasi dengan mereka. Itulah pentingnya komunikasi antar budaya dalam sebuah organisasi.

Rabu, 02 Desember 2015

Konsep Dasar Komunikasi Antar Budaya

Irman fsp - Pada dasarnya, antara komunikasi dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pusat perhatian komunikasi dan kebudayaan itu terletak pada variasi langkah dan cara serta metode manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial, bagaimana menjajaki makna, model tindakan dan bagaimana makna serta model ‐ model itu diartikulasi sebuah kelompok sosial yang melibatkan interaksi antar manusia.

komunikasi antar budaya
Konsep dasar kombud

Dari penjelasan tersebut, berikut beberapa pendapat ahli tentang definisi komunikasi antar budaya, yaitu :
  1. McLuhan menyatakan bahwa dunia saat ini telah menjadi “Global Village” yang mana kita mengetahui orang dan peristiwa yang terjadi di negara lain hampir sama seperti layaknya seorang warga negara dalam sebuah desa kecil yang menjadi tetangga negara-negara lainnya. Perubahan sosial adalah hal lain yang berpengaruh dalam komunikasi antar budaya yaitu dengan makin banyaknya perayaan-perayaaan budaya sebuah etnis dalam sebuah negara.
    Perbedaan budaya dalam sebuah negara menciptakan keanekaragaman pengalaman, nilai, dan cara memandang dunia.Keanekaragaman tersebut menciptakan pola-pola komunikasi yang sama di antara anggota-anggota yang memiliki latar belakang sama dan mempengaruhi komunikasi di antara anggota-anggota daerah dan etnis yang berbeda.
    Perusahaan-perusahaan yang memiliki cabangnya di luar negeri, tentunya merupakan syarat mutlak bagi para karyawannya untuk memiliki bekal pengetahuan yang cukup mengenai situasi dan kondisi budaya yang akan dihadapinya (inter cultural competence), salah-salah jika mereka gagal berkomunikasi dengan budaya yang dihadapinya, perusahaan hanya akan bertahan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.
  2. Gudykunst and Kim mengkonsepkan fenomena komunikasi antar budaya sebagai “sebuah transaksional, proses simbolik yang mencakup pertalian antar individu dari latar belakang budaya yang berbeda.” Kata kuncinya adalah proses. Komunikasi antar budaya seharusnya dapat dipandang dan dianalisis sebagai sebuah proses yang kompleks, bukan sekedar sebuah pertemuan.
  3. Damen mendefinisikan komunikasi antar budaya sebagai “Tindakan-tindakan komunikasi yang dilakukan oleh individu-individu yang di identifikasikan dengan kelompok-kelompok yang menampilkan variasi antar kelompok dalam bentuk pertukaran sosial dan budaya”. Pertukaran bentuk, ekspresi individu, adalah variabel-variabel utama dalam tujuan,tata kerama, cara, dan arti-arti yang mana proses komunikatif memberikan efek.
  4. Lustig and Koester‟s menyatakan, komunikasi antar budaya adalah sebuah “Proses simbolik yang mana orang dari dari budaya-budaya yang berbeda menciptakan pertukaran arti-arti”. Hal tersebut terjadi ketika perbedaan perbedaan budaya yang besar dan penting menciptakan interpretasi dan harapan-harapan yang tidak sama mengenai bagaimana berkomunikasi secara baik.
  5. Jandt mengatakan komunikasi antar budaya tidak hanya komunikasi antar individu tapi juga di antara “Kelompok-kelompok dengan identifikasi budaya yang tersebar”. Ringkasnya, komunikasi antar budaya menjelaskan interaksi antar individu dan kelompok-kelompok yang memiliki persepsi yang berbeda dalam perilaku komunikasi dan perbedaan dalam interpretasi.


Dari beberapa pendapat ahli tentang definisi komunikasi antar budaya, maka kita dapat menyimpulkan bahwa definisi komunikasi antar budaya, yakni sebagai berikut:
  1. Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antara orang ‐ orang yang berbeda kebudayaannya, misalnya antar suku bangsa, antar etnik,ras dan kelas sosial.
  2. Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi antara produsen pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda.
  3. Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi atau kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.

Pentingnya Komunikasi Antar Budaya
Menurut Gudykunst dan Kim sekarang ini komunikasi antar budaya semakin penting dan semakin vital di banding masa-masa sebelum ini.Beberapa faktor yang menyebabkan pentingnya komunikasi antar budaya, yaitu:

  1. Mobilitas Mobilitas masyarakat di seluruh dunia sedang mencapai puncaknya.Perjalanan dari satu negara ke negara lain dan dari satu benua ke benua  lain banyak dilakukan.  Saat ini orang sering kali mengunjungi budaya-budaya lain untuk mengenal daerah baru dan orang-orang yang berbeda serta untuk menggali peluang-peluang ekonomis.
  2. Saling ketergantungan ekonomi masa kini, kebanyakan negara secara ekonomis bergantung pada negara lain. Kehidupan ekonomi suatu bangsa akan bergantung pada kemampuan bangsanya untuk berkomunikasi secara efektif dengan kultur-kultur yang berbeda dari bangsa lain yang lebih maju.

Tujuan dan Alasan Mempelajari Komunikasi Antar Budaya
Ada beberapa tujuan dan manfaat yang kita peroleh setelah mempelajari komunikasi antar budaya, yaitu:
  1. Memahami perbedaan budaya yang mempengaruhi praktik komunikasi.
  2. Antar orang yang berbeda budaya.
  3. Mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang muncul dalam komunikasi.
  4. Membantu mengatasi masalah komunikasi yang disebabkan oleh perbedaan budaya.
  5. Meningkatan ketrampilan verbal dan non verbal dalam komunikasi.
  6. Menjadikan kita mampu berkomunikasi secara efektif. Adapun beberapa alasan mengapa kita perlu mempelajari komunikasi antar budaya, antara lain: 1. Membuka diri memperluas pergaulan; 2. Meningkatkan kesadaran diri; 3. Mengenal Etika/etis; 4. Mendorong perdamaian dan meredam konflik antarbudaya; 5. Demografis; 6. Kegiatan ekonomi; 7. Menghadapi teknologi komunikasi; 8. Menghadapi era globalisasi.