Tampilkan postingan dengan label teori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teori. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2016

9 Model Model Komunikasi Yang Perlu Anda Ketahui

Irman fsp – Pada dasarnya, model komunikasi sudah dijelaskan sedikit pada artikel sebelumnya. Sebagai mana pendapat Denis MCQuail dan Seven Windahl bahwa model komunikasi ada lima yakni: model dasar, model pengaruh personal, penyebaran dan dampak komunikasi massa terhadap individu, model efek komunikasi massa, model khalayak dan model komunikasi tentang sistem, baik itu produksi, seleksi, dan alir media massa.

Namun demikian, dalam artikel kali ini irman fsp juga mengutarakan model model komunikasi yang akan kami uraikan dibawah ini. Dalam modul komunikasi politik jurusan Ilmu Komunikasi Fisip, Unsyiah.

model komunikasi
Model Sirkuler Osgood dan Schramm

1. Model Komunikasi Intrapribadi Barnlund
Model ini pertama kali dikemukakan oleh Dean C. Barnlund. Ia adalah seorang ahli komunikasi yang berasal dari Amerika Serikat. Komunikasi intrapribadi merupakan proses pengolahan dan penyusunan informasi melalui sistem syaraf yang ada didalam otak kita, yang disebabkan oleh stimulus yang ditangkap oleh panca indera. Proses berfikir merupakan bagian dari proses komunikasi yang terjadi dalam diri individu.

Model tersebut menjelaskan bahwa perilaku non verbal individu bervalensi positif, netral atau negatif, dipengaruhi oleh isyarat isyarat pribadi dan publik. Sebagai contoh banyak orang yang tertarik dengan pesan simbolik yang dikomunikasikan oleh goyang Ratu Ngebor Inul Daratista. Demikian pula halnya ekspresi wajah patung Gajah Mada, atau kecepatan volume bicara Bung Karno yang mampu menggetarkan dada publik.

2. Model Komunikasi Antarpribadi Barnlund
Model ini juga dikemukakan oleh Dean C. Barnlund, pada dasarnya merupakan kelanjutan dari komunikasi intrapribadi. Unsur unsur tambahan di dalam proses komunikasi antarpribadi adalah pesan dan isyarat perilaku verbal. Dengan demikian pola dan bentuk komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih sangat dipengaruhi oleh hasil komunikasi intrapribadi masing masing orang.

Menurut Barnlund, komunikasi antarpribadi diartikan sebagai pertemuan antara dua, tiga, atau mungkin empat orang, yang terjadi sangat spontan dan tidak berstruktur. Komunikasi antarpribadi juga mempunyai ciri ciri yakni sebagai berikut:
  1. Bersifat spontan
  2. Tidak berstruktur
  3. Terjadi secara kebetulan
  4. Tidak mengejar tujuan yang direncanakan
  5. Identitas keanggotaannya tidak jelas
  6. Terjadi hanya sambil lalu


3. Model Stimulus Respons
Model stimulus - respon (S-R) merupakan model komunikasi yang paling mendasar dan sederhana. Model ini mengingatkan kita bahwa apa bila ada aksi maka akan timbul reaksi. Apabila seorang gadis berjalan lenggak lenggok bak peragawati dan banyak pria memolotokkan mata padanya sampai tak berkedip, itu merupakan pola Stimulus Respons (S-R). Proses ini merupakan bentuk pertukaran informasi yang dapat menimbulkan efek untuk mengubah tindakan komunikasi.

4. Model Matematika Shannon dan Weaver
Model matematika ini sangat berpengaruh terhadap model model dan teori komunikasi berikutnya. Model Shannon dan Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan pesan untuk dikomuniksikan. Pemancar mengubah pwsan menjadi signal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Saluran adalah medium yang digunakan untuk mengirim signal dari pemancar ke penerima.

Shannon dan Weaver juga memperkenalkan konsep mengenai redudancy dan entropy. Redudancy adalah pengulangan kata yang dapat menyebabkan rendahnya entropy. Shannon dan Weaver juga menekankan bahwa setiap informasi yang disajikan merupakan proses komunikasi. Informasi yang disampaikan memiliki tujuan untuk menambahkan pengetahuan, mengubah sikap, dan perilaku individu serta khalayak.

5. Model Komunikasi Lasswell
Model komunikasi lasswell merupakan ungkapan verbal berikut ini:
Who
Says What
In Which Channel
To Whom
With What Effect?

Unsur sumber (Who) mengundang pertanyaan mengenai pengendalian pesan. Unsur pesan (Says What) merupakan bahan untuk analisis isi. Saluran komunikasi (In which channel) menarik untuk mengkaji mengenai analisis media. Unsur penerima (To whom) banyak digunakan untuk studi analisis khalayak. Unsur pengaruh (With what effect) berhubungan erat dengan kajian mengenai efek pesan pada khalayak.

Oleh karena itulah model lasswell ini banyak diterapkan dalam komunikasi massa. Kritik yang muncul terhadap model lasswell ini adalah terlalu menekankan pada pengaruh khalayak, yang terkadang mengabaikan faktor umpan balik (feed back). Umpan balik dari khalayak sangat penting bagi komunikator untuk mengetahui apakah pesan memperoleh tanggapan positif, netral atau negatif.

6. Model Sirkuler Osgood dan Schramm.
Model ini menggambarkan suatu proses yang dinamis. Pesan ditransmisikan melalui proses encoding dan decoding. Hubungan antara encoding dengan decoding layaknya sumber (encoder) penerima (decoder) yang saling mempengaruhi satu sama lain. namun pada tahap berikutnya penerima (encoder) dan sumber (decoder), Intepreter berfungsi ganda sebagai pengirim dan penerima pesan. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat.


7. Model Melvin DeFleur.
Model ini merupakan proses komunikasi massa yang dikembangkan dari proses komunikasi antarpribadi. Model ini juga dapat dikatakan perluasan dari model Shannon dan Weaver dengan memasukkan unsur unsur piranti media massa dan piranti umpan balik. Sumber dan pemancar merupakan dua fungsi berbeda yang dilakukan oleh individu. Individu memilih simbol simbol untuk menyatakan makna denotatif dan konotatif. Hal ini disampaikan secara verbal atau ditulis dalam simbol simbol tertentu, sehingga merubah menjadi peristiwa yang dapat kita baca, dengar, atau lihat, serta dapat dipersepsikan sebagai stimulus oleh khalayak.

8. Model John W. Rilley dan Mathildha W. Rilley.
Proses komunikasi ini menggunakan pendekatan sosiologi untuk mengkaji perilaku komunikasi antar manusia. Secara sosiologis, penerima pesan yang disampaikan oleh sumber/ komunikator tidak secara langsung akan ditanggapi. Tetapi akan mengendalikan aksi dan reaksi terhadap pesan yang diterima. Faktor faktor yang mempengaruh terhadap diri penerima adalah kelompok primer seperti keluarga inti, atau kelompok rujukan, yang dalam struktur sosial lebih besar.

9. Model Maletzke.
Menurut model ini, khalayak di dalam melakukan pencarian informasi, disebabkan oleh kebutuhan rasa ingin tahu, dan gaya intuisi seseorang. Keterpaan media massa dapat diukur melalui sumber sumber media massa yang digunakan, curahan waktu untuk penerimaan pesan media, dan pemakaian jenis pesan. Tipologi kebutuhan manusia yang dapat dipenuhi media massa adalah kebutuhan hiburan, hubungan personal, identitas pribadi, dan pengumpulan informasi.

Menurut pandangan Maletzke, khalayak tidak dipengaruhi oleh media massa dalam keadaan kosong. Pesan media merupakan bagian dari kehidupan sehari hari khalayak. Pesan itu disaring berdasarkan keyakinan, sikap, nilai nilai dan lingkungan sosialnya

Selasa, 22 Desember 2015

Teori Motivasi Maslow Yang Dapat Anda Ketahui

Irman fsp - Kata motivasi (motivation) kata dasarnya adalah motif (motive) yang berarti dorongan, sebab atau alasan seseorang melakukan sesuatu. Dengan demikian motivasi berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan suatu perbuatan/kegiatan, yang berlangsung secara sadar.

Sehubungan dengan uraian di atas, dapat dibedakan dua bentuk motivasi kerja. Kedua bentuk tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Motivasi Intrinsik adalah pendorong kerja yang bersumber dari dalam diri pekerja sebagai individu, berupa kesadaran mengenai pentingnya atau manfaat/makna pekerjaan yang dilaksankannya.
  2. Motivasi Ekstrensik adalah pendorong kerja yang bersumber dari luar diri pekerja sebagai individu, berupa suatu kondisi yang mengharuskannya melaksanakan pekerjaan secara maksimal. Misalnya berdedikasi tinggi dalam bekerja karena upah/gaji yang tinggi, jabatan/posisi yang terhormat atau memiliki kekuasaan yang besar, pujian, hukuman dan lain-lain.


Lingkungan suatu organisasi/perusahaan terlihat kecenderungan penggunaan motivasi ekstrinsik lebih dominan daripada motivasi intrinsik. Kondisi itu terutama disebabkan tidak mudah untuk menumbuhkan kesadaran dari dalam diri pekerja, sementara kondisi kerja di sekitarnya lebih banyak menggiringnya pada mendapatkan kepuasan kerja yang hanya dapat dipenuhi dari luar dirinya.

Manusia merupakan makhluk yang keinginannya tidak terbatas atau tanpa henti, alat motivasinya adalah kepuasan yang belum terpenuhi serta kebutuhannya berjenjang, artinya jika kebutuhan yang pertama terpenuhi maka kebutuhan tingkat kedua akan menjadi yang pertama, dan berlaku seperti itu. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam masyarakat dan organisasi maka akan semakin tinggi faktor yang dirasakan menjadi kebutuhan orang tersebut.

Gambar 1. Hierarki Kebutuhan Maslow

Teori Maslow
Adapun hierarki kebutuhan menurut Maslow adalah sebagai berikut (Hasibuan, 2001):
  1. Kebutuhan Fisiologis.
    Ini adalah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan.
  2. Kebutuhan Keamanan.
    Ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi aktif. Orang dewasa memiliki sedikit kesadaran keamanan mereka kebutuhan kecuali pada saat darurat atau periode disorganisasi dalam struktur sosial (seperti kerusuhan luas). Anak-anak sering menampilkan tanda-tanda rasa tidak aman dan perlu aman.
  3. Kebutuhan Cinta, sayang dan kepemilikan.
    Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang dan kepemilikan dapat muncul. Maslow menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini melibatkan kedua dan menerima cinta, kasih sayang dan memberikan rasa memiliki.
  4. Kebutuhan Esteem.
    Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas, berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia. Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.
  5. Kebutuhan Aktualisasi Diri.
    Ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan melakukan apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan.” “Seorang musisi harus bermusik, seniman harus melukis, dan penyair harus menulis.”

Kebutuhan ini membuat diri mereka merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi, tegang, kurang sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar, tidak aman, tidak dicintai atau diterima, atau kurang harga diri, sangat mudah untuk mengetahui apa orang itu gelisah tentang. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin ketika ada kebutuhan untuk aktualisasi diri.


Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.

Teori Herzberg
Herzberg dikutip oleh Umar (1999) mengemukakan teori dua faktor atau sering disebut sebagai Herzberg two factor motivation theory. Menurutnya pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi dua faktor utama yang merupakan kebutuhan, yaitu:
  1. Maintenance Factor (faktor pemeliharaan atau faktor higinis)
    Menurut teori ini terdapat serangkaian kondisi ekstrinsik yaitu keadaan pekerjaan yang menyebabkan rasa tidak puas di antara karyawan. Kondisi ini adalah faktor yang membuat orang tidak puas, disebut juga higiene factor, karena faktor tersebut diperlukan untuk mempertahankan tingkat yang paling rendah, yaitu tingkat tidak ada kepastian.Faktor ini berhubungan dengan hakikat pekerja yang ingin memperoleh kebutuhan (ketentraman) badaniah.

    Kebutuhan ini akan berlangsung terus menerus, karena kebutuhan ini akan kembali pada titik nol setelah dipenuhi. Faktor pemeliharaan ini meliputi balas jasa (gaji dan upah), kondisi kerja, kebijakan serta administrasi perusahaan, kepastian pekerjaan, hubungan antar pribadi (atasan dan bawahan), kualitas supervisi, kestabilan kerja, dan kehidupan pribadi.
  2. Motivation Factor (faktor motivasi)
    Merupakan faktor motivasi yang menyangkut kebutuhan psikologis yang berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan. Kebutuhan ini meliputi serangkaian kondisi intrinsik, kepuasan kerja yang diperoleh dalam pekerjaan akan mendorong motivasi yang kuat, yang dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik.

    Faktor-faktor tersebut meliputi prestasi, pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, kemajuan, pengembangan potensi individu, ruangan yang nyaman, dan penempatan kerja yang sesuai

Kamis, 27 Agustus 2015

Teori Uses and Gratification

Teori Uses and Gratification merupakan teori efek komunikasi massa yang berpedoman pada khalayak yang aktif memilih pesan media sesuai dengan kebutuhannya. Teori ini juga dikenal dengan Teori Uses and Gratifications yang berasumsi bahwa khalayak aktif dan penggunaan media adalah bertujuan untuk ditonjolkan. Harus diakui, bahwa pada penulisan karya ilmiah tentu memerlukan teori agar penulisan tersebut benar benar lengkap dan menjadi referensi untuk peneliti lainnya.

Untuk itu, dalam artikel ini kami paparkan salah satu model penelitian komunikasi massa, yaitu Uses and Gratifications, yang juga merupakan suatu model yang memusatkan perhatiannya pada penggunaan media dan pemenuhan khalayak terhadap media. Penelitian komunikasi massa pada saat itu hanya memuaskan pada pengaruh atau efek media terhadap khalayak. Tanpa memperhatikan sebenarnya ada unsur-unsur tertentu yang menyertai penyebab pengaruh atau efek media tersebut.

teori uses and gratification dalam komunikasi massa
teori uses and gratification dalam komunikasi massa

Dari sini timbul istilah Uses and Gratifications, penggunaan dan pemenuhan kebutuhan. Adapun asumsi dasar teori Used and Gratifications yang dirumuskan oleh Elihu Katz, Jay G. Blummer, dan Michael Gurevitch (dalam Jalaluddin, 1994: 205),  yaitu:
  1. Khalayak dianggap aktif, artinya sebagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan.
  2. Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada anggota khalayak.
  3. Media massa harus bersaing dengan sumber lain untuk memuaskan kebutuhan yang dipenuhi media hanyalah sebagian dari rintangan kebutuhan manusia yang lebih luas. Bagaimana kebutuhan ini terpenuhi melalui konsumsi media amat bergantung kepada perilaku khalayak yang bersangkutan.
  4. Banyak tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak, artinya orang yang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi tertentu.
  5. Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti dahulu orientasi khalayak.

Model ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan media pada diri orang, tetapi ia tertarik pada apa yang dilakukan orang terhadap media. Anggota khalayak dianggap secara aktif dan selektif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya.

Dalam menerima pesan, masing-masing orang mempunyai penilaian tersendiri yang berbeda-beda, bergantung dari khalayak tersebut memilih medianya, pengaruh dari masalah, latar belakang khalayak, dan juga image khalayak terhadap media tersebut.

Mark Levy dan Sven Windahl (1985) memberikan gambaran terhadap konsep khalayak aktif yaitu adanya rasa suka rela dan orientasi yang selektif dari khalayak terhadap proses komunikasi. Selanjutnya Jay G Blumer (1979) mengemukakan beberapa aktifitas khalayak dimana konsumsi media akan terjadi yaitu:
  1. Utility. Media mempunyai kegunaan dan manusia dapat menempatkan media pada kegunaan tersebut.
  2. Intentionality. Terjadi pada saat motivasi utama manusia menentukan konsumsi dari isi media mereka.
  3. Selectifity. Penggunaan media merupakan refleksi dari ketertarikan dan preferensi mereka.
  4. Imperviouses to influence. Khalayak membangun makna mereka atas isi media dan makna tersebut mempengaruhi apa yang dipikirkan dan lakukan.

Teori Uses and Gratifications memberikan perbedaan yang jelas antara aktivitas dan derajat keaktifan. Aktivitas berkenaan dengan apa yang dilakukan oleh konsumen media. Sedangkan derajat keaktifan yaitu kebebasan dan otonomi khalayak dalam situasi komunikasi massa.

Demikian artikel yang menjelaskan terkait teori uses and gratification. Semoga dengan adanya penjelasan di atas, maka pembaca blog irman fsp dapat dengan mudah pada saat menyusun karya ilmiah masing masing.

Teori Individual Different atau Perbedaan Individu

Teori S-R kemudian dimodifikasi oleh Melvin DeFleur menjadi teori Perbedaan Individu atau Individual Differences of Mass Communication. Hal ini disebabkan karena menurut DeFleur pesan-pesan media yang berisi stimulus-stimulus tertentu dan berinteraksi secara berbeda-beda dengan karakteristik pribadi dari para anggota khalayak.

Pada teori ini DeFleur mengemukakan bahwa pesan-pesan media yang berisi stimulus menghasilkan respon yang berbeda-beda dari kalangan khalayak. Hal ini disebabkan oleh perbedaan-perbedaan atau karakteristik tiap-tiap individu, seperti: usia, sikap, minat, pekerjaan, agama, dan sebagainya. “Pesan-pesan media berisi stimulus tertentu yang berinteraksi secara berbeda-beda dengan karakteristik pribadi dari anggota audiencenya” (Sandjaya dkk, 1994: 188).

Teori Perbedaan Individu
Teori Individual Different

Dalam teori ini secara eksplisit telah mengakui adanya pengaruh unsur-unsur psikologis yang berinteraksi dengan terpaan media massa dan menghasilkan efek. Dengan demikian terdapat suatu kaitan yang erat antara pesan-pesan media dengan respon audience.

Respon atau tanggapan terhadap pesan-pesan tersebut diubah oleh tatanan psikologisnya. Jadi efek media kepada khalayak massa itu tidak seragam melainkan beragam. Hal ini disebabkan karena mereka secara individual berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam struktur kejiwaan maupun pola hidup yang terbentuk oleh lingkungan tempat individu tersebut dan berkembang.


Menurut Jalaluddin (1994: 37) teori Individual Differences mencakup 2 konsep, yaitu: struktural psikologis individu dan perilaku individu. Struktur psikologis individu akan menentukan bagaimana individu memilih dari lingkungan dan bagaimana individu memberi makna pada stimuli tersebut. Dan ada 2 faktor utama yang mempengaruhi perilaku individu, yaitu faktor biologis yang merupakan faktor turunan dari orang tua serta dimiliki oleh masing-masing individu dan faktor sosiopsikologis. 

Ada 3 komponen yang mencakup pada faktor sosiopsikologis, yaitu : komponen afektif, yaitu aspek emosional, komponen kognitif, yaitu aspek intelektual berkaitan dengan apa yang diketahui manusia, dan komponen konatif, yaitu aspek fungsional yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak (Ibid: 37).

Teori Individual Differences memandang bahwa sikap dan organ personal psikologis individu akan menentukan bagaimana individu memilih stimuli (rangsangan) dari lingkungan dan bagaimana ia memberi makna pada stimuli tersebut, karena setiap orang mempunyai kebutuhan biologis, pengalaman belajar dan lingkungan yang berbeda. Perbedaan inilah yang menyebabkan pengaruh media massa berbeda pula.

Teori Stimulus Respon atau Teori S-R

Irman fsp | Penelitian ini juga menggunakan teori S-R (Stimulus-Response) yang pada dasarnya mengungkapkan adanya reaksi akibat dari adanya stimulus yang dalam hal ini diberikan oleh media massa. Terdapat kaitan erat antara pesan-pesan media dengan reaksi atau respon dari khalayak.

Menurut Sandjaya dkk (dalam Ibid: 188-189) Ada 3 elemen utama pada teori ini, yaitu:
  1. Pesan (stimulus)
  2. Penerima/komunikan/receiver
  3. Efek (respon)

Pada teori ini mengemukakan bahwa pesan-pesan media yang berisi stimulus menghasilkan respon yang berbeda-beda dari kalangan khalayak. Efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimuli sehingga akhirnya seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan.

Teori Stimulus-Respon
Teori stimulus-respon (stimulus-response theory) adalah teori yang menyatakan bahwa organisme belajar dulu untuk mengasosiasikan stimulus awal dengan yang lainnya, stimulus yang berdekatan dan kemudian menanggapi stimulus kedua yang terkondisi dengan perilaku sebelumnya yang dipicu oleh stimulus awal.
Contoh Teori S-R

Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pesan-pesan yang disampaikan oleh media massa akan diterima oleh masing-masing individu menurut keputusan mereka sendiri. Mulai dari memilih, menafsirkan bahkan sampai dalam hal mengingatnya.

Masing-masing individu mempunyai sifat dan karakteristik tertentu yang berbeda satu sama lainnya, dan hal ini tentunya yang menyebabkan terjadinya perbedaan tanggapan/respon dari tiap-tiap individu itu yang juga akan menimbulkan sikap dan perilaku yang berbeda-beda pula.

Respon dalam hal ini dapat diasumsikan merupakan perubahan sikap yang terjadi pada komunikan  berdasarkan  stimulus atau rangsangan yang diterimanya. Proses perubahan sikap ini dapat terjadi atau dapat berubah hanya jika stimulus yang diberikan benar-benar baik.


Prinsip Stimulus-Respon ini merupakan dasar dari teori jarum hipodermik. Model ini mempunyai asumsi bahwa komponen-komponen komunikasi (komunikator, pesan, media) amat perkasa dalam mempengaruhi komunikasi. Disebut jarum hipodermik karena dalam model ini dikesankan seakan-akan komunikasi ’disuntikkan’ langsung kedalam jiwa komunikan, sebagaimana obat disimpan dan disebarkan dalam bentuk fisik begitu pula pesan-pesan persuasif mengubah sistem psikologis.

Model ini sering juga disebut ”bullet theory” (teori peluru) karena komunikan dianggap secara pasif menerima berondongan pesan-pesan komunikasi. Bila kita menggunakan komunikator yang tepat, pesan yang baik atau media yang benar, komunikan dapat diarahkan sekehendak kita (Jalaludin, 1998: 162).

Setiap khalayak dalam menerima stimulus yang disampaikan melalui suatu media memiliki persepsi yang berbeda-beda karena walaupun pesan atau stimulus yang disampaikan sama namun dampak atau pengaruh yang terjadi akan berbeda satu sama lain.

Media massa menyampaikan pesan-pesannya kepada khalayak luas dan tidak terbatas yang disebut masyarakat massa. Pesan-pesan itu disampaikan secara serempak dan ditujukan untuk sejumlah besar orang, bukan kepada individu atau perorangan.

Efek yang timbul dari pesan-pesan media massa tersebut terhadap masyarakat massa berbeda-beda tiap individu. Media berusaha menjangkau khalayak yang diinginkan dan menemukan saluran yang paling efektif untuk mempengaruhi masyarakat.

Kamis, 20 Agustus 2015

8 Teori Komunikasi Persuasif

Irman fsp | Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku “Ilmu Komunikasi dalam Teori dan Praktek”. “Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris “Communications” berasal dari kata latin “Communicatio, dan bersumber dari kata “Communis” yang berarti “sama”, maksudnya adalah sama makna. kesamaan makna disini adalah mengenai sesuatu yang dikomunikasikan, karena komunikasi akan berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan atau dikomunikasikan. Suatu percakapan dikatakan komunikatif apabila kedua belah pihak yakni komunikator dan komunikan mengerti bahasa pesan yang disampaikan” (Effendy, 2005 : 9).

komunikasi
Teori komunikasi persuasif

Komunikasi persuasif merupakan bentuk komunikasi yang mepengaruhi komunikannya sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikatornya mungkin juga dapat merubah sikap dari komunikannya, namun  pesan yang akan disampaikan komunikator kepada komunikannya harus menjadi hal besar yang perlu di perhatikan karena akan merubah sikap dan perilaku komunikannya. Hal yang dapat mempengaruhi dalam komunikasi persuasif diantaranya, komunikator, pesan, saluran, penerima.

Sebagaimana yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi dalam Teori dan Praktek Carl I. Hovland, “Komunkasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas- asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap”.

Berikut 8 bentuk komunikasi persuasif yang dapat Anda ketahui sebagai berikut:
  1. The Bullet Theory atau Teori Peluru.
    Merupakan konsepsi pertama yang muncul, berkenaan dengan efek komunikasi persuasif. Ia disebut pula dengan hypodermic – needle theory atau teori jarum hipodermik. Kadang -kadang di sebut pula transmision belt theory atau teori lajur transmisi. Dalam teori ini dibahas mengenai pengaruh pesan yang disalurkan melalui media massa, dan mengatakan bahwa media massa itu ampuh untuk mengubah prilaku massa.
  2. The Limited – Effects Model.
    Menurut model pengaruh terbatas, komunikasi massa hanya mempunyai pengaruh yang kecil saja terhadap khalayaknya. Hal ini dibuktikan melalui penelitian Hovland terhadap tentara. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa efek film hanya dapat mentransmisikan informasi, ketimbang mengubah sikap khalayak, demikian pula penelitian Azarsfeld tentang pemilihan umum, menunjukkan bahwa kampanye melalui TV hanya sedikit mempengaruhi khalayak sasaran.
  3. Cultivation Theory.
    Gebner dan kawan – kawannya mengembangkan theori ini dengan mengemukakan argumennya bahwa televisi telah menjadi tangan central kebudayaan di AS ia mengemukakan TV telah menjadi bagian dari anggota keluarga yang terpenting yang selalu mengisi sebagian besar waktu yang ada.
  4. The Effects of Synthetic Experience.
    Teori ini berawal dari hasil peneliatian Funkhouser dan Shaw, 1990. Mereka mengatakan bahwa gambar bergerak, televisi, dan komputer dapat membentuk persepsi khalayak tentang realitas, yaitu dapat memanipulasi dan merencanakan kembali, tidak hanya isi, tetapi juga proses dari pengalaman berkomunikasi. Kesimpulannya adalah bahwa media elaktronik menampilkan jenis pengalaman tiruan. Pengalaman tiruan tersebut apakah dalam hal warna, tentang hal – hal yang menyimpang, dan lainnya telah menurunkan martabat manusia dalam hal cara memandang terhadap kebudayaan  (Severin dan Tankard, 1992)
  5. The Spiral of Silence.
    Dikembangkan oleh Elizabeth Noelle Neumann mereka berargumen bahwa media massa mempunyai efek yang kuat dalam opini public, karena merupakan sumber bagi seseorang dalam memperoleh informasi.
    Spiral kebisuan yang ditimbulkan media massa dapat terjadi melalui hal – hal seperti audience yang membentuk pesan opini itu.
    a. Dominan
    b. Mengalami peningkatan
    c. Dapat dikeluarkan seseorang dalam publik tanpa membuatnya terisolasi
  6. Media Hegemony.
    Menurut teori ini ide – ide dari golongan yang berkuasa dalam suatu masyarakat merupakan ide – ide yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri. Menurut teori ini media massa merupakan alat pengontrol oleh golongan yang dominan dalam suatu masyarakat, dan di pandang sebagai pembantu dalam menggunakan kontrol dari golongan tersebut pada seluruh masyarakat. ( Sallach, 1974).
  7. Effects of Television Violence.
    Kajian dan penelitian tentang efek kekerasan di yang ditimbulkan oleh TV berangkat oleh teory belajar sosial yang dikemukakan oleh Bandura. Teori belajar sosial berargumen bahwa orang cendrung untuk meniru prilaku yang diamatinya, stimuli menjadi teladan untuk prilaku (Rahmad, 1968)
  8. The Powerful Effects Model.
    Dikemukakan oleh Elizabet Noele Nouman 1973, teori ini memperkuat teori sebelumnya, spiral of silence. Teori ini berpendapat bahwa media massa dapat mempengaruhi prilaku khalayak.

Demikian teori efek komunikasi persuasif yang dapat anda ketahui. 8 teori komunikasi persuasif ini dapat anda pelajari kembali, bila anda belum mengetahui dan belum tahu terkait pengertian dan penjelasannya. Semoga dengan adanya penjelasan dari Irman fsp dapat mempermudahkan anda dalam mencari materi perkuliahan.

Sumber:
Onong Uchjana Effendy, Prof, M.A (2003) Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung.
Deni Darmawan (2006) Teori Komunikasi, Bandung: Arum Mandiri Press.

Minggu, 02 Agustus 2015

Teori Johari Window dan Penjelasannya

Irman fsp - Pengertian Jendela Johari “model yang menjelaskan tingkat keterbukaan dan tingkat kesadaran tentang diri kita. Model ini penting dalam komunikasi antarpribadi. ” Johari window adalah jendela dengan empat bagian yang menggambarkan bahwa manusia terdiri atas empat self (diri). Namun johari berasal dari singkatan nama penemunya, yakni Joseph Luft dan Harry Ingham.


Penjelasan teori johari window
Teori jendela johari

Dalam artikel ini kami paparkan pengertian serta penjelasan mengenai teori jendela johari atau johari window yakni sebagai berikut:

1. Open self
Dalam diri kita terdapat daerah terbuka (Open). Open self adalah bagian dari diri kita yang menyajikan semua informasi, perilaku, sifat, perasaan, keinginan, motivasi, dan ide yang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain. Informasi yang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain ini mencakup antara lain nama diri, warna kulit, usia, agama, sikap terhadap politik, hobi, dan sebagainya.

Menurut Joseph Luft, makin kecil bagian open self, makin buruk komunikasi berlangsung. Komunikasi tergantung pada tingkat keterbukaan di mana kita membuka diri kepada orang lain dan kepada diri kita sendiri. Jika kita tidak mengizinkan orang lain mengetahui tentang diri kita, komunikasi antara kita dan orang lain tersebut akan mengalami kesukaran, untuk tidak menyebut tidak mungkin. Untuk meningkatkan komunikasi antarpribadi dengan orang lain, kita harus memperlebar daerah open self .

2. Blind self
Dalam diri kita terdapat daerah yang disebut daerah buta (blind). Self adalah segala hal tentang diri kita yang diketahui orang lain namun tidak diketahui oleh diri kita sendiri.
Karena adanya daerah buta atau blind, akan membuat komunikasi menjadi tidak efektif, maka kita harus mengusahakan agar daerah ini jangan terlalu besar dalam diri kita. Menghilangkannya sama sekali adalah tidak mungkin, namun kita harus berusaha untuk menyusutkannya.


3. Hidden self area
Dalam diri kita terdapat wilayah tersembunyi. Wilayah ini berisi apa – apa yang kita ketahui dari diri kita sendiri atau dari orang lain yang kita simpan untuk diri sendiri, yang orang lain tidak mengetahuinya. Misalnya, kita menyimpan sendiri rahasia kesuksesan kita, ketakutan kita akan sesuatu, masalah keluarga, kondisi keuangan yang buruk, dan sebagainya.

Dalam menyingkapkan diri kita pada orang lain (yang dikenal dengan konsep self disclosure, yang akan kita pelajari pada bagian berikut) terdapat dua ekstrim. Pada suatu ekstrim, kita menceritakan semua tentang diri kita pada orang lain. Disini berarti daerah hidden self sangat kecil. Pada ekstrim yang lain, kita sama sekali tidak mencerminkan tentang diri kita pada orang lain. Orang – orang seperti ini umumnya takut membuka diri, antara orang lain karena takut ditertawakan dan ditolak. Pda ekstrim ini, daerah hidden self sangat besar.

4. Unknown self
Dalam diri kita terdapat wilayah yang tidak dikenal (unknown). Daerah unknown self adalah aspek dari diri kita yang tidak diketahui baik oelh diri kita sendiri maupun orang lain. Kita mungkin akan mengetahui aspek dari diri yang tidak dikenal ini melalui kondisi kondisi tertentu, misalnya melalui hipnotis. Walaupun sulit untuk mengetahuinya, kita harus menyadari bahwa aspek ini ada dalam diri kita.