Gadis 26 Desember Karya Ibnu Hajar

Irman fsp | Gadis 26 Desember Karya Ibnu Hajar | Setelah memarkirkan motor, perlahan Gade membuka pintu pagar dan berjalan masuk. Suasana sunyi-sepi langsung terasa. Sejenak ia ragu, lalu melangkah pelan mendekati teras. Tiupan angin semilir menyambut kedatangannya, membelai lembut pada wajah seakan mengucapkan salam rindunya yang telah lama dipendam.

Rumah ini adalah tempat Gade tinggal dulu saat masih bekerja sebagai kuli bangunan. Kini terlihat tua dan tidak terurus sama sekali. Pemiliknya mati sejak enam tahun lalu. Semak daun dan rumput ilalang kini membelukar, tumbuh lebat layaknya  hutan belantara.

Gade menghentikan langkah. Suasana hatinya berubah sendu saat  melihat pohon mangga tua yang tumbuh gersang tanpa daun. Pohon ini adalah awal cerita yang telah menyimpan banyak rahasia, tentang seorang gadis telanjang yang dia temukan sekarat di bawahnya. Pada dahannya juga masih menyimpan sebuah ukir yang Gade buat dulu tentang lekuk tubuh Gadis itu. “Gadis 26 Desember,” begitu Gade menulis kata di bawah ukiran itu.

Gadis adalah perempuan yang  pernah mengapung di halaman ini,  saat air laut meluap dan ombak-ombak raksasa memporak-porandakan kota. Gadis meraung sejadinya mengharap tolong pada siapa saja  yang  mungkin mendengar, sampai Gade kemudian  meraih tubuh bugilnya dan mereka selamat di atas pohon mangga ini.

Setelah enam tahun berlalu, sore  itu  Gade berkunjung kembali kerumah  tersebut. Dia ingin menuntaskan hasrat hatinya yang telah lama merindu. Terlebih setelah secara tidak sengaja pagi tadi berjumpa lagi dengan si Gadis. Mereka bertemu pada sebuah Rumah Sakit tempat sejak sepekan ini Gade bekerja. Gade memang tidak lagi menjadi kuli bangunan.

Tenaganya sudah tak sekuat dulu. Beberapa bulan yang lalu Gade mengalami kecelakaan hebat, terjatuh dari lantai dua sebuah bangunan saat sedang bekerja memasang atap. Terpaksa kini Gade menjadi cleaning service pada rumah sakit tersebut. Dan Gadis yang ternyata sudah menjadi seorang dokter muda,  cantik lagi,  kebetulan juga bekerja di sana.

Saat angin kencang tiba-tiba berhembus, Gade terbangun dari hayalnya yang panjang. Bayang-bayang  Gadis masih saja menjelma di pikirannya .”Bukankah aku tak mengharap apa-apa darimu?” ujar Gade lirih sambil memperhatikan lekuk tubuh Gadis di pohon mangga itu.

“Kenapa kau tega bersikap begitu. Apa Aku terlalu hina di matamu dan teman-temanmu itu?” Gade seperti berbicara pada angin, atau mungkin pada pohon mangga itu. Batinnya tersayat mengingat sikap Gadis yang kelihatannya malu mengakui Gade sebagai orang yang pernah dia kenal.

 “Siapa?” “Tidak kenal  tuh, cleaning service yang sok dekat, padahal kenal pun tidak.” Itulah percakapan terakhir Gadis dan temannya sesama berbaju dinas putih yang sempat Gade dengar, sebelum kemudian Gade pergi meninggalkan Rumah Sakit itu. Gade kecewa.

Sudah setengah hari Gade berada di rumah ini. Ia seperti orang sedih yang kebingungan, berjalan  melihat-lihat  ke setiap sudut halaman rumah peninggalan pamannya ini, melahap setiap kenangan yang dulu pernah terukir di sini. Kemudian dia  kembali merebahkan tubuhnya di bawah pohon mangga. Ia menikmati belai sejuk angin sore yang terasa kian dingin.

Di sana, mendung hitam membentang tebal. Gade menatap jauh pada gumpalan awan yang membentang luas itu. Hujan sebentar lagi akan turun deras. Mungkin akan lebih deras dari air mata Gade yang dari tadi sudah bercucuran. Gade benar-benar terhanyut dalam rasa, seperti melihat kembali masa silam penuh luka itu. Bibi dan pamannya mati di sini, juga kelima anak mereka. Dan juga kisah miris yang ia dapat bersama Gadis.

Karya  Ibnu Hajar, mahasiswa Muharram Journalism College
Editor : bakri
Referensi: http://aceh.tribunnews.com/2011/12/18/gadis-26-desember

0 Response to "Gadis 26 Desember Karya Ibnu Hajar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel